Kisah Misionaris Pdt.Trevor C.Johnson: Pelayanan Penginjilan & kesehatan dari pendalaman Korowai Utara

Pendeta Trevor Christian Johnson yang sedang melayani di wilayah Korowai Utara

Oleh. Pendeta Trover C. Johnson Kepada Dr. Aloysius Giay dan Dr. Silwanus Sumule

Saya Pendeta Trevor Johnson dari kampung Danowage, wilayah utara Korowai. Saya ingin berterimakasih dari lubuk hati yang terdalam untuk semua bantuan dan dukungan anda. Papua bisa maju dan bersama kita bisa membantu kemajuan Papua!

Dengan surat ini saya ingin mengucapkan terima kasih untuk bantuan anda bagi saya.
Saya telah melayani di wilayah Korowai sejak 2007. Saya telah menghabiskan sekitar 5 milyar dari dana pribadi saya dan juga dari gereja-gereja di Amerika Serikat dan Indonesia untuk menyediakan pelayanan kesehatan dan pendidikan bagi masyarakat Korowai.

Saya sangat berterimakasih untuk bantuan yang semakin meningkat dari pemerintah yang saya alami dua-tiga tahun belakangan ini; saya juga berterima kasih khususnya untuk bantuan anda dan bantuan dari Dr Yusus Wona juga.
Saya percaya pemerintah dan gereja-gereja di Papua bisa bekerjasama dengan baik sampai ke daerah yang terpencil sehingga masyarakat pedalaman Papua tidak menderita.

Sepanjang sejarah Papua, sekolah dan klinik cukup banyak dimulai oleh misionaris dan gereja-gereja untuk membantu masyarakat pedalaman. Dimanapun pemerintah masuk, disana gereja dan misionaris sudah merintis jalan. Misionaris membuka sekolah dan membantu yang sakit. Saya tidak melakukan hal yang baru, saya hanya meneruskan satu tradisi yang baik. Kami bersyukur atas bantuan dari pemerintah; tapi ini bukan berarti gereja tidak lagi memiliki ruang dalam pelayanan.

Masih terlalu banyak tempat yang perlu dibantu dan kita memerlukan semua bantuan yang bisa kita dapat, baik dari gereja maupun dari pemerintah. Namun di tahun 2018, saya menerima kritik karena melakukan hal yang sama yang selalu dilakukan misionaris.

Saya berusaha melakukan kebaikan demi masyarakat pedalaman, tapi ada beberapa orang yang tersinggung dengan aktifitas saya. Beberapa orang ingin saya dideportasi atau membebankan denda pada saya. Mungkin mereka mendatangi anda juga untuk mengkritik saya atau menanyakan pertanyaan-pertanyaan kepada anda tentang saya.
Ada 3 kemungkinan kenapa ada orang-orang yang mengkritik pelayanan kesehatan yang saya lakukan:

(1). Pertama, adanya kemungkinan bahwa saya akan memberikan perawatan kesehatan dengan buruk atau saya tidak berkompeten. Namun, saya pikir bukan ini alasannya. Saya dan istri saya adalah perawat yang sudah terdaftar secara sah di Amerika Serikat dan kami memiliki pengalaman sebagai perawat selama bertahun-tahun. Kami cukup yakin bahwa kami dapat lulus ujian keperawatan apapun di Indonesia (kecuali jika istilah-istilah medis ditulis dalam Bahasa Indonesia dan bukan Bahasa Inggris). Terutama istri saya, dia seorang perawat yang sangat kompeten. Dan saya tidak bermaksud untuk merendahkan tingkat pelayanan kesehatan di Indonesia, tapi secara keseluruhan, perawat-perawat di Amerika terlatih dengan cukup baik dibandingkan perawat-perawat di Indonesia. Saya cukup yakin kami mengerjakan pekerjaan yang berkualitas di kawasan Korowai Utara.

(2) Yang kedua, ada kemungkinan bahwa orang-orang mengkritik pelayanan kesehatan yang saya lakukan di wilayah Korowai karena setiap foto dari orang Korowai yang sakit menunjukkan ketidakhadiran pemerintah di daerah-daerah tersebut. Beberapa orang merasa malu melihat foto orang-orang sakit di Korowai. Banyak yang bertanya “Kenapa tidak dibantu oleh Pemerintah?”sehingga beberapa orang merasa dipermalukan dengan laporan saya mengenai betapa buruknya daerah Korowai. Tapi jika wilayah tersebut benar-benar dalam krisis, maka hal itu harus dilaporkan, jangan ditutup-tutupi. Kalau ditutup-tutupin, krisis tersebut akan terkuak seperti yang terjadi di wilayah Asmat. Lebih baik kita menyingkapkan kenyataan dan betapa berat pergumulan yang dihadapi untuk mengubah keadaan. Bersama kita dapat menjangkau seluruh kawasan Korowai.

(3) Ada kemungkinan ketiga mengapa ada orang yang mengkritik pelayanan kesehatan saya, karena mereka mau membuat masalah untuk saya. Dapat diamati bahwa saya tidak mendapatkan kritik apa-apa sampai saya mulai membuat laporan mengenai adanya penambangan emas secara illegal di kawasan Korowai. Menurut saya, saya telah membuat pihak-pihak yang terlibat dalam penambangan emas tersebut marah.

Penambangan emas ilegal itu bukan hanya sebuah pelanggaran HAM, tapi juga menyangkut masalah kesehatan dimana terdapat bukti yang sangat kuat yang menunjukkan bahwa para pencari emas menggunakan bahan kimia yaitu zat Merkuri dan membuangnya ke sungai; sementara kita tahu bahwa masyarakat Korowai bergantung pada sungai sebagai tempat mencari makanan dan untuk mandi.

Oleh karena itu, kita harus menghentikan penambangan emas ilegal karena itu bukan hanya pelanggaran terhadap HAM tapi juga pasti mengakibatkan permasalahan kesehatan. Zat kimia Merkuri dapat membunuh udang dan ikan dan juga dapat menyakiti orang-orang. (Untuk membantu kesehatan bagi orang-orang Korowai, kita harus menghentikan penambangan emas ilegal.)

Tapi saya mendengar minggu lalu dari seorang pendeta yang adalah teman saya yang bekerja di kantor pemerintahan bahwa Intel sedang mencari-cari alasan bagaimana supaya bisa mendeportasi saya. Saya rasa mereka ingin membungkam saya mengenai perihal penambangan emas ilegal. Teman saya itu mengatakan bahwa ia secara tidak sengaja mendengar seseorang di kantor itu berkata, “mungkin kita bisa pakai pesawat langsung ke Danowage dan tangkap mereka dan langsung deportasi mereka.”

Bukanlah hal rahasia bahwa penambangan emas ilegal dan penebangan hutan ilegal masih ada di Papua. Bukan satu rahasia juga bahwa oknum dalam kepolisian, oknum dalam TNI dan politisi bertindak sebagai “tangan yang tersembunyi” dibalik kerusakan ini. Tapi sebagai seorang Kristen saya tidak bisa diam ketika diperhadapkan dengan ketidakadilan. Saya tidak punya pilihan lain selain berbicara lantang dan saya tidak akan mau diintimidasi.

Jika kita menerangi korupsi dan kerusakan di Indonesia maka mereka akan berserakkan dan bersembunyi atau menghentikan aktifitas mereka, sama seperti ketika kita menerangi kecoak atau tikus. Bersama-sama kita bisa menjadikan Papua bersih dari korupsi dan sehat bagi semua penghuninya, termasuk yang paling miskin dan yang paling terpencil. Saya bukanlah musuh pemerintah tapi saya sebagai mitra pemerintah karena kita memiliki tujuan yang sama, yaitu untuk membantu warganegara Indonesia untuk hidup lebih sehat.

Saya bukan ingin mengkritik pemerintah, dan saya tidak pernah mengkritik pemerintah. Presiden kita yang baik sedang memerangi korupsi dengan berani dan oleh karena itu saya yakin dia akan mendukung semua usaha memerangi korupsi di Papua dan untuk memerangi penambangan emas ilegal.
Saya hanya mendorong beberapa isu yang berkenaan dengan kesehatan supaya proses yang sedang berjalan akan semakin baik.

Saya berdoa dan mendukung semua pejabat pemerintahan di Papua dan seluruh Indonesia. Saya berbicara dengan lantang mengenai beberapa hal bukan karena saya membenci Indonesia dan pemerintahannya dan masyarakatnya; sebaliknya, saya berbicara dengan lantang karena saya mengasihi Indonesia, pemerintah dan masyarakatnya. Saya ingin melihat Indonesia makin maju.
Jika anda bisa dengan segera memberikan Surat Ijin bagi saya untuk melaksanakan pelayanan kesehatan, ini dapat mencegah kritik-kritik menjatuhkan ditujukan kepada saya oleh orang-orang yang menginginkan saya dideportasi.

Saat ini ada beberapa pihak yang mengatakan bahwa saya tidak punya ijin resmi untuk menangani yang sakit atau memberikan obat kepada yang sakit di wilayah Korowai. Dan ya, saya akui ini benar. Saya tidak pernah berusaha menyembunyikan fakta ini. Saya adalah seorang rohaniawan pemegang Kitas. Tapi bagaimana mungkin saya tolak orang sakit dan tidak beri mereka pertolongan? Kadang tidak ada pihak lain yang ada untuk bantu mereka. Saya tidak bisa membiarkan mereka mati.

Saya percaya kritik-kritik datang dari mereka yang sama sekali tidak memperdulikan mereka yang sakit di wilayah saya. Yang mereka inginkan hanyalah supaya saya tidak lagi berada di Danowage sehingga saya tidak bisa lagi melaporkan kegiatan ilegal mereka yaitu penambangan emas ilegal. Mereka mau saya pergi sehingga mereka dapat memperkaya diri dari kekayaan Tanah Korowai, walaupun suku Korowai harus menderita dan mati karena kemiskinan.

Sementara saya sedang berjuang mencari dana untuk menggunakan helikopter untuk melayani orang sakit, saya dengar ada setidaknya 1 helikopter yang siaga di bandara Dekai untuk mengangkut para penambang emas. Ini membuat saya marah bahkan saat saya hanya menulis tentang ini.
Aliktab dalam Amsal 14:31 berfirman bahwa, “Siapa menindas orang yang lemah, menghina Penciptanya, tetapi siapa menaruh belas kasihan kepada orang miskin, memuliakan Dia.”
Kemudian Amsal 29:7 melanjutkan, “Orang benar mengetahui hak orang lemah, tetapi orang fasik tidak mengertinya.”
Dan Firman Tuhan mendorong kita dalam Amsal 31:8, “Bukalah mulutmu untuk orang yang bisu, untuk hak semua orang yang merana. Belalah mereka yang tak dapat membela dirinya sendiri. Lindungilah hak semua orang yang tak berdaya.”
Saya mencoba sebaik mungkin untuk mengikuti Firman Allah.

Terima kasih karena anda membantu saya dalam pergumulan ini. Bersama kita bisa memberkati masyarakat di Korowai.
Terima Kasih, God bless you for your help!

Penulis: Pendeta Trevor Johnson
Repost. Admin

Virus Corona Memperpanjang Umur dan Mengurangi Angka Kematian Bagi Orang Asli Papua [OAP]

Gambar: Merenius Wanimbo dari Dokumen Pribadi [blog Voice For Many People]

VIRUS CORONA MEMPERPANJANG UMUR DAN MENGURANGI ANGKA KEMATIAN BAGI ORANG ASLI PAPUA (OAP)

OLEH : MERENIUS WANIMBO

A. Pendahuluan

Virus Corona atau ( Covid 19 ) yang sangat ganas dan banyak memakan korban jiwa hingga ribuan orang meninggal dunia dan puluhan ribu lainnya terinfeksi ini awal mulanya muncul di propinsi Wuhan – China. Virus ini mudah sekali menyebar pada manusia melalui orang lain, pada awal mengetahui virus ini Komisi Kesehatan Nasional China mengkonfirmasi virus Corona dapat ditularkan dari manusia ke manusia Yang lain yaitu melalui mereka yang sudah terinfeksi positif virus Corona kepada manusia yang lain. Bahkan virus itu bisa saja menempel di salah satu tempat dekat pasien corona. Virus ini pertama kali muncul di Wuhan, salah satu kota di China. Pada awalnya muncul Virus ini Simpang siur kabar soal sumber kemunculan virus ini, mulai dari makanan hingga hewan-hewan unggas. Hal ini dikarenakan belum adanya informasi jelas soal asal mula kemunculan virus tersebut.
virus corona ramai diketahui banyak orang, dan ada seorang dokter yang bernama Li Wenliang telah memberikan informasi soal kemunculan virus tersebut. Dia memberikan pesan yang mengejutkan di grup alumni sekolah kedokterannya melalui aplikasi pesan singkat yang populer di China, Pesan singkat dr. Li adalah “Tujuh pasien dari pasar makanan laut lokal telah didiagnosis menderita penyakit mirip SARS dan dikarantina di rumah sakitnya,” tulisnya. Li menjelaskan menurut sebuah tes yang telah dilihatnya penyakit itu adalah virus corona, yang ternyata satu keluarga dengan virus sindrom pernapasan akut (SARS).”Saya hanya ingin mengingatkan teman-teman sekelas universitas saya agar berhati-hati,” kata Li. Li adalah seorang dokter berusia 34 tahun yang bekerja di Wuhan, kota yang menjadbaran virus Corona.
Wabah virus Corona masih terus menghantui sejumlah negara di dunia. Tak terkecuali Indonesia. Jika sebelumnya Indonesia menjadi salah satu negara yang belum terinfeksi, kini Tanah Air sudah mengonfirmasi kasus pertamanya.Tidak tanggung-tanggung, pasien yang terinfeksi virus corona, Masyarakat perlu hati-hati dan menjaga kesehatan. Namun, masih banyak warga Indonesia yang mempertanyakan bagaimana Virus Corona bisa masuk ke Indonesia. Pada tanggal 14 Februari 2020, pasien terinfeksi virus corona berdansa dengan WNA Jepang. Pasien berusia 31 tahun ini memang bekerja sebagai guru dansa dan WNA asal Jepang ini juga merupakan teman dekatnya. Selang dua hari, yakni 16 Februari 2020 pasien terkena sakit batuk. Pasien kemudian melakukan pemeriksaan di rumah sakit terdekat. Namun, saat itu pasien langsung dibolehkan untuk rawat jalan atau kembali ke rumah. Namun, sakit yang dideritanya tidak kunjung sembuh. Hingga pada 26 Februari 2020, pasien dirujuk ke rumah sakit dan diminta untuk menjalani rawat inap. Pada saat inilah, batuk yang diderita pasien mulai disertai sesak napas. Pada 28 Februari 2020, pasien mendapatkan telepon dari temannya yang di Malaysia. Dalam sambungan telepon tersebut, pasien mendapatkan informasi jika WNA Jepang yang merupakan temannya itu positif terinfeksi virus corona. “Kemudian pasien tersebut memberi tahu perawat rumah sakit,” jelas ( Menteri Kesehatan RI dr. Terawan ).
Dan saat ini pemerintah Indonesia menerapkan peraturan New normal di beberapa provinsi termasuk di propinsi Papua. New normal dilakukan sebagai upaya kesiapan untuk beraktivitas di luar rumah seoptimal mungkin, sehingga dapat beradaptasi dalam menjalani perubahan perilaku yang baru. Perubahan pola hidup ini dibarengi dengan menjalani protokol kesehatan sebagai pencegahan penyebaran dan penularan Covid 19.

B. Pembahasan

Virus Corona ( Covid 19 ) adalah salah satu penyakit yang sangat mematikan dan membahayakan kehidupan manusia bahkan virus ini sangat ganas untuk memakan korban jiwa hingga puluhan ribuan orang meninggal dunia dan puluhan ribu lainnya terinfeksi, Virus Corona ( covid 19 ) tidak memandang status orang di seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia dan west Papua, dalam beberapa bulan pertengahan tahun ini ribuan orang meninggal dunia karena terpapar oleh Virus Corona (Covid 19), Namun pengamatan kami terbalik untuk Provinsi Papua terlebih khusus terhadap masyarakat Orang Asli Papua ( OAP ) yang hidup di tanah air mereka ( West Papua ), sebagaimana diketahui bahwa sebelum wabah Virus Corona ( Covid 19 ) tiba di tanah west Papua mobil ambulance setiap hari bunyikan sirenenya di sepanjang jalan membawa jenazah hampir sehari lebih dari satu orang dan rata-rata mayoritasnya adalah orang asli Papua ( OAP ), baik dari rumah sakit maupun dijalan raya karena kecelakaan/ tabrak lari. Angka kematian merayalela di tanah Papua ambulance yang Hari hari bunyi tanpa henti hentinya justru semakin berkurang, status Orang Asli Papua di medsos tentang berita duka atau berita kematian orang Papua kini jarang terdengar dan semakin berkurang, dan angka kecelakaan di jalan raya mulai berkurang entahlah kenapa.. !!
Dengan situasi dan kondisi yang sedang terjadi saat ini Orang Asli Papua bisa mengambil hikmah dari setiap kejadian yang terjadi antara sebelum wabah virus Corona dan setelah Wabah virus Corona ini ada di Tanah PAPUA, Untuk itu sangat berharap kepada Pemerintah Daerah baik Provinsi maupun Kabupaten /Kota se-Provinsi PAPUA ( Bapak Gubernur PAPUA dan Para Bupati se-Provinsi PAPUA serta Para Wakil Rakyat se Provinsi Papua ) selaku mengambil kebijakan dan keputusan di tanah ini, perlu satukan Visi dan misi untuk mengambil suatu kebijakan demi untuk menyelamatkan Orang Asli Papua ( OAP ) dari yang tersisa yang sedang hidup di atas tanah leluhur nenek moyang mereka di ( TANAH PAPUA ) yang kini menjadi perampasan oleh orang-orang dari luar pulau Papua yang bukan hak milik mereka. Sebelum wabah virus Corona banyak orang asli Papua mati sia,-sia di negeri mereka. Akan tetapi saat ini pemerintah Indonesia telah menerapkan peraturan new normal sebagai upaya kesiapan untuk beraktivitas di luar rumah seoptimal mungkin, sehingga dapat beradaptasi dalam menjalani perubahan perilaku yang baru. Perubahan pola hidup ini dibarengi dengan menjalani protokol kesehatan sebagai pencegahan penyebaran dan penularan COVID-19, walaupun virus Corona belum berakhir secara total tetapi pemerintah Indonesia menerapkan peraturan new normal agar masyarakat dapat melaksanakan aktivitas dengan leluasa, ini yang sangat membahayakan kesehatan dan keselamatan nyawa orang asli Papua, karena pengalaman hidup saat sebelum ada virus Corona orang asli Papua meninggal sia-sia. Orang asli Papua meninggal bukan karena, sakit penyakit, bukan karena kelaparan, bukan pula karena kesehatan yang tidak sehat, tetapi orang Papua meninggal karena sistem pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat orang asli Papua yang sangat buruk sekarang sudah kembali pada new normal maka, atas kondisi dan situasi ini saya sarankan kepada pemerintah daerah terlebih khusus kepada Bapak Gubernur PAPUA dan Bupati dan Wali kota se- Tanah PAPUA untuk dapat melihat dan mengamati situasi ini dan menerima saran dan masukan Rakyat kecil seperti ini; Mempersiapkan SDM ( Dokter” spesialis dan Umum orang asli Papua ( OAP ), Membangun rumah sakit standar Internasional khusus untuk dirawat orang asli Papua (OAP), kembali kepada kesadaran masyarakat Papua untuk menghidakan anjuran Pemerintah dan menjaga kesehatan dan keselamatan dirinya serta belajar hidup mandiri pada habitat aslinya yaitu Berkebun dan konsumsi makan makanan lokal west Papua.
Dan saya secara pribadi mohon kepada orang asli Papua terutama kepada pemerintah PAPUA selaku mengambil kebijakan dan keputusan untuk mencarikan solusi terbaik demi untuk keselamatan orang asli Papua yang tersisa di Negeri ini agar kita tidak terus-menerus menjadi korban di negeri kita sendiri.

C. Kesimpulan

Dari tulisan ini dapat ditarik kesimpulan beberapa poin penting adalah sebagai berikut:
Pemerintah Se Tanah West Papua baik ke dua provinsi maupun kabupaten kota se- Tanah West Papua mempersiapkan SDM ( Dokter spesialis dan Dokter umum khususnya orang Asli Papua ).
Membangun rumah sakit standar internasional khusus untuk orang asli Papua berobat.
Orang asli Papua meninggal bukan karena, sakit penyakit, bukan karena kelaparan, bukan pula karena kesehatan yang tidak sehat, tetapi orang Papua meninggal karena sistem pemerintahan dan pelayanan yang sangat buruk terhadap orang asli Papua.
Kembali kepada kesadaran masyarakat Papua agar selalu memperhatikan anjuran Pemerintah menjaga kesehatan dan keselamatan dirinya.
Belajar untuk kembali kepada habitat aslinya sebagai orang West Papua yaitu Berkebun dan konsumsi makan makanan lokal west Papua.

Cacatan.
Tulisan dipublikasikan atas perijinan, dari sumber penulis Merenius Wanimbo.

Waena Gunung
26 Juni 2020

Mamfaat Daun Ganja dan Daun Gatal

Gambar Kedua Daun, [Dari dokomen Pribadi Penulis Terus Wenda, Mahasiswa Asal Tolikara Papua, Kota Studi Jawa Timur Malang].

KEDUA DAUN GANJA DAN GATAL”

VOICE FOR MANY PEOPLE. Jangan hidup sepeti daun ganja Tetapi Harus hidup seperti daun gatal. Daun ganja mahal harganya tapi manfaatnya Merugikan masa depan generasi bangsa. Sedangkan daun gatal harganya murah meria dan di Papua Gratis namun Manfaat daun gatal sangat besar yang paling Menguntungkan, menyembuhkan berbagai penyakit.

Daun ganja ditanam oleh orang-orang yang butuh kenikmatan dunia demi untuk menghancurkan Generasi Cerdas bagi Tanah, Gereja dan Masyarakat. Serta daun ganja ditanam dengan hati-hati jangan sampai polisi ketahun.

Daun gatal tidak perlu di jaga, tidak perlu di rawat tapi daun gatal dia bertumbuh secara Alami dimana saja ia mau bertumbuh dan tidak kenah disiplin serta bebas dari larangan kepolisian.

Daun ganja lambang ekspresi jiwa mudah serta memasang gaya orang-orang mudah tapi Itu ekspresi serta memasan gaya suatu paksaan dari kasiat aiwanya ganja. 

Daun gatal memang bukan daun Memasang ekspresi dan gaya anak [ABG]. Tapi Ia bisa menyembuhkan beberapa penyakit “kronis dan musiman” Jadilah seperti daunnya Gatal tapi manfaatnya menguntungkan serta daun ganja merugikan diri, gereja dan Masa depan budaya.  Mari lestarikan daun gatal sebab sebelum ada Obat mederen seperti Kimia Farma, inilah obat manjur”.

Cacatan.
Tulisan dipublikasikan atas permitaan dan atas perijinan, dari sumber penulisnya. Terus Wenda Mahasiswa Asal, Kota Studi Jawa Timur Malang.

Jakarta, Cipayung 10-06-2020

Bupati Tolikara Kembali Mendapatkan Kartu Kuning Kedua Oleh Mahasiswa Tolikara Se-indonesia

Gambar Kartu Kuning Bupati. Tolikara Yang pertama & Kedua Serta Korang Berjudul Bupati Tolikara Kembali Mendapatkan Kartu Kuning Ke 2

[VOICE FOR MANY PEOPLE] Mahasiswa Tolikara Se-indonesia Kembali Menuntut Pemda Untuk Dipercepat Proses Pengiriman Bansos C-19

Dari tuntutan awal tanggal (03/05/2020) lalu satu hari kemudian tanggal (05/05/2020) Bapak Kepala Daerah Usman G. Wanimbo, SE.M.Si selaku Ketua Tim Gugus Covid-19 telah di umumkan kepada mahasiswa/i di aula Asrama putra Tolikara jalan Yoka, kota jayapura-papua.
Dapat menyampaikan kepada media dan mahasiswa nya bahwa anggaran khusus untuk bantuan kepada mahasiswa Tolikara se-indonesia sebesar $ 4 Miliar lebih.

Dana tersebut ditangani oleh Asisten ll dengan tim kerjanya untuk mengalokasikan kepada setiap mahasiswa/i seluruh indonesia dengan mekanisme pengiriman atau pembagiannya yang telah disepakati bersama dari pihak pemda dengan mahasiswa namun, dana sudah dianggarkan tinggal eksekusi itu terlihat terlalu molor kerjanya sampai memakan waktu 21 hari. Terhitung dari 05- 27 Mey 2020.

Dengan molornya proses pengiriman/pembagian dengan alasan tidak masuk diakal dan persyaratan yang di minta dari pihak pemda seperti

“KTP, KPM dan Surat Aktif Kuliah [untuk mengirim lewat rekening masing-masing]”

Namun seluruh mahasiswa menilai bantuan dana studi akhir dan dana pemondokan mungkin wajar pihak pemerintah meminta data fisik semacamnya tetapi, mengenai bantuan untuk Covid-19 ini sepertinya terlalu berlebihan. Pemda mereka seolah-olah mata buta atas aktifitas perkuliahan yang sedang diliburkan sementara waktu karena Pandemic wabah virus Covid-19 ini maka, untuk melengkapi persyaratan semacam surat aktif kuliah itu bagaimana bisa mau ambil di campus?

Oleh sebabnya persyaratan simple saja semacam Draft Nama-nama (Database) Mahasiswa/i yang sudah dikirim oleh ketua koordinator masing-masing itu sudah data mutlak. Karena ketua-ketua korwil itu pimpinan dari setiap anggota yang mereka percaya maka pemda harus percaya mereka.

Dan perlu dicatat bahwa untuk menangani persoalan bantuan ini wajib dengan dasar hukumnya jelas sebab di perintah dari kepala Negara untuk setiap daerah dalam hal penanganan Covid-19 harus dianggarkan.

Dengan hal ini setiap kepala daerah sudah ambil tindakan yang efektif untuk menyelamatkan masyarakat dan generasi penerus daerahnya masing-masing maka tim yang sedang proses data tidak perlu ngotot untuk mempersulitkan mahasiswa.

Ingat!
Presiden Soeharto di turunkan dari kepala negara saat itu karena ada aksi mahasiswa

Cacatan.
Tulisan dipublikasikan atas perijinan, sumber penulis Yeromy Bembok, dari dinding Facebook Lebah Toli

Berikut link video tuntutan Mahasiswai Tolikara👇https://youtu.be/Ceg0aG57Ais[UW CHANNEL]

Coretan Sebuah Renungan

[Foto Penulis dari Dokumen Pribadi] Botol Aqua

Saya suka Dengan Coretan saya ini, semoga Kalian juga suka dan memberkati dengan Coretan ini.

Oleh. Usman Weya

Sebuah BOTOL
~Kalau diisi air mineral, harganya 3 tiga ribuan…

~Kalau diisi kopi & teh, harganya ya 5, limah ribuh ribuan
~Kalau diisi jus buah, hargan ya 10, sepuluh ribuan…
~Kalau diisi Madu, harganya ratusan ribu…
~Kalau diisi minyak wangi harganya bisa jutaan!.
~Kalau diisi air comberan, hanya akan dibuang dalam tong sampah karena tidak ada harganya…

Sama-sama dikemas dalam BOTOL tetapi berbeda nilainya, sebab “isi” yang ada di dalamnya berbeda…

Begitu juga dengan kita; semua sama. semua manusia.

Yang membedakannya adalah; KARAKTER yang ada didalam diri kita.

Ilmu dan pemahaman yang benar akan membangun karakter yang benar.

“Sukses tidak diukur dari posisi yang kita capai, tapi dari kesulitan’2 yang berhasil kita atasi ketika berusaha meraih sukses”

Bila kita mengisi hati, dengan penyesalan masa lalu dan kekhawatiran akan masa depan, hampir pasti kita tidak akan memiliki hari ini untuk kita syukuri.

Hujan dan badai akan selalu kita temui dalam perjalanan hidup, namun…

“Hujan besar itu seperti tantangan hidup. Tidak perlu berdoa memohon hujan berhenti, tetapi cukup berdoa agar Payung kita bertambah kuat”

Ingat! Umur itu seperti es batu.
dipakai atau tidak dipakai akan tetap mencair… digunakan atau tidak digunakan umur kita tetap akan berkurang dari “jatah” yang telah ditetapkan.

“Selagi masih tersisa jatah usia kita, lakukanlah KEBAIKAN sebanyak yang kita mampu lakukan.”

  1. Ada tiga hal dalam hidup yang tidak bisa kembali:
    Waktu, Ucapan dan Kesempatan
    Jagalah itu, jangan sampai kau menyesal karenanya…
  2. Ada tiga hal yang dapat menghancurkan hidup seseorang:
    Amarah, Keangkuhan dan Dendam
    Hindarilah ia selalu…
  3. Ada tiga hal yang tidak boleh hilang :
    Harapan, Keikhlasan dan Kejujuran
    Peliharalah ketiganya…
  4. Ada tiga hal yang paling berharga :
    Kasih Sayang, Cinta dan Kebaikan
    Pupuklah itu semua…
  5. Ada tiga hal dalam hidup yang tidak pernah pasti:
    Kekayaan, Kejayaan dan Mimpi
    Jangan terobsesi karenanya…
  6. Ada tiga hal yang dapat membentuk watak seseorang :
    Komitmen, Ketulusan dan Kerja Keras
    Upayakanlah sekuatnya…
  7. Ada tiga hal yang membuat kita sukses :
    Tekad, Kemauan dan Fokus
    Usahakan dengan sungguh-sungguh…
  8. Ada tiga hal yang tidak pernah kita tahu :
    Rejeki, Umur dan Jodoh
    Mintalah pada TUHAN..
    TAPI, ada tiga hal dalam hidup yang PASTI :
    Tua, Sakit dan Kematian

Masa Depan Cerah
Kisah Parah Rasul 1:11

Selamat Memperingati Hari Kenaikan Yesus Kristus ke Sorga.

Mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya untuk menerima Berkat. Sebab Kenaikan Yesus ke Sorga dan janji kedatangan-Nya kembali memberikan kita sebuah pengharapan dan kepastian. AMIN

Bandung 21-05-2020
Waktu 23:19 Wib

Kartu Kuning Buat Bupati Tolikara

Foto Dokumen, “Kartu Kuning Bupati Tolikara” [Aksi Mahasiswa Tolikara Se-indonesia.]

Oleh Dr. Etius Weya

KARTU KUNING BUAT BUPATI TOLIKARA

Beberapa minggu ini, kita semua intelektual Tolikara di kagetkan dengan aksi adik-adik mahasiswa, dengan memberikan Kartu Kuning kepada Bupati Tolikara, terkait bantuan sosial dampak virus Covid-19.

Ungkapan kekecewaan adik-adik mahasiswa seluruh Indonesia ( kecuali Jayapura), dilakukan lewat demonstrasi virtual yang dilakukan, bahkan sampai tembus di TV lokal di Papua (Jaya tv).

Beberapa hari kemudian Pemda Tolikara berespon bahwa dana bansos sudah disediakan 4M untuk mahasiswa dan warga Tolikara namun untuk di salurkan pemda meminta beberapa syarat seperti KTP, KTM, KRS, Buku tabungan. ( ribet sekali yaa birokrasi heeee). status Facebook Etius Weya

Yang kita lihat di beberapa media, pemda Tolikara memberikan bantuan kepada ade-ade mahasiswa di Jayapura, hal ini membuat munculnya beberapa reaksi dari intelektual Tolikara.

Tentu kita semuanya ini terdampak pandemi Virus Covid-19, hemat saya ada baiknya pemda Tolikara mengutamakan adik-adik yang diluar Papua dengan pertimbangan mereka jau dari orang Tua, susah berkebun dll. Ini sebenarnya hanya masalah logika berpikir kita saja, ini sebenarnya masalah mana yang lebih prioritas dari semuanya yang terdampak virus Covid-19.

Etius Weya melihat begini.

Kita semuanya intelektual Tolikara sudah harus siuman, kita sudah di pecah bela oleh siapa? Saya sendiri belum tahu, ikatan-ikatan distrik, suku, keluarga dll banyak yang Bermunculan, akhirnya nasionalisme distrik lebih dominan dari pada nasionalisme Tolikara. Kalau kita biarkan begini, tentu dimasa mendatang kita mau cetak calon-calon pemimpin Papua dan Tolikara yang punya wawasan san nasionalisme Papua dan Tolikara tentu akan jau dari harapan kita bersama.

Sikap PEMDA ( Bupati Tolikara) seperti sekarang semakin memecah bela adik-adik mahasiswa Tolikara di beberapa Kota study, tentu ini sangat memprihatinkan, padahal jika kita sejenak saja melihat kebelakang, dampak dari PILKADA Bupati kemarin adik-adik kita terpecah bela. Semestinya sebagai seorang pemimpin dapat merangkul adik-adik kita.

Sejenak saya diam dan merenung sembari menikmati dinginya kota Ilaga, apakah ini yang di maksud dengan Politik adu domba atau politik pecah bela.

Istilahnya yang kita tahu dari pelajaran ialah devide et impera, ‘pecah, dan kuasai’. Ini sama dengan tradisi orang Inggris; devine and rule, atau orang Arab bilang farriq, tassud!’ yang berarti sama, ‘pecah dan perintahlah.

Benturan yang segaja dimainkan untuk mencari legitimasi ini akan menyebabkan perpecahan dan kehancuran antar mahasiswa/I Tolikara.

Berbicara Politik adu domba pada dulu zaman dulu bisa jadi mungkin karena kurangnya pendidikan, zaman sekarang kayanya tidak mungkin ade-ade mahasiswa sudah pada pintar-pintar. hanya mungkin pendidikan yang didapatkan kurang baik, hehehe.

Kita tidak kompeten akhirnya muda di pengaruhi , Rasional di tutupi oleh emosional seperti halnya nasionalisme Tolikara di tutupi oleh hal-hal yang sifatnya prakmatis. Coretan pendek dari dinding Facebook Etius Weya.

Cacatan.
Tulisan dipublikasikan atas perijinan, dari sumber penulis Dr. Etius Weya

Salam Damai
Penudis. Etinus Weya
Ilaga Rabu 20/5/20

Corona virus vs Pelayanan publik oleh pemerintah Tolikara

Foto Penulis dan anggota aksi, pada saat aksi Serentak Mahasiswa Tolikara, Se-indonesia dari Dokumen Pribadi penulis Sony Liwiya

CORONA VIRUS vs PELAYANAN PUBLIK OLEH PEMERINTAH TOLIKARA.

Sesuai dengan instruksi presiden Republik Indonesia Ir. Joko Widodo ( Jokowi) Melalui Kementerian Kesehatan Memberitahukan Bahwa Seluruh Warga negara Indonesia jaga kesehatan dan Kenyamanan dalam Hal ini karantina diri di rumah. Berdasarkan UUD No 6. Thn 2018 tentang Karantina Kesehatan.
Melihat kondisi saat ini dalam penanganan corona virus oleh pemerintah Tolikara seakan di Terlantar kan rakyatnya sendiri dalam Menghadapi Waba ini.

Karena dunia Telah menjadi Tua, dan kita tidak pernah menghormati tanah, Tanah adalah Kaka dari segala ciptaan yang kami Huni, dan akan huni pulah anak cucu kita. Sekarang di abad 20/21 ini kita di perhadapkan dengan virus Corona atau (Covid 19) yang mengguncang Dunia dan memakan banyak korban jiwa, saya pinjam kutipan dari #Ibnu Sina, Rahimahulla# Kepanikan adalah separuh Penyakit, ketenangan adalah separuh obat, dan kesabaran adalah Permulaan kesembuhan
Pimpinan legislatif dan eksekutif dan semua .

Pimpinan bahkan ASN Tolikara semua sembunyi Muka dalam gua ciklop ka dimana ee?
Rakyat Tolikara dan Mahasiswa sedang Bertanya Tanya kemanakah Ayah Kami saat ini.
Saat anak Minta Makanan Ayah mala Memberi Permen apa yang muncul dalam Benak anak tersebut? Senyum dalam KesedihanPun datang dalam situasi ini, manis dalam birokrasi. Sedih di kalangan mahasiswa dan Rakyat.
Pimpinan gereja selalu ambil ilustrasi/ cerita kalau anda itu pilihan Allah Melalui Rakyat untuk melayani rakyat Melalui pemerintah yang anda pimpin.
Rasul Paulus mengajak umat Tuhan di kota Roma untuk taat kepada Pemerintah, sebab tidak ada pemerintah yang berasal dari ALLAH, dan di Tetapkan oleh Allah. ( Roma 13)
Saat ini Alam Tolly rakyat Tolly sedang Bimbang dan ragu untuk Menghadapi pademi corona virus yang sedang meraya lela di Belahan dunia termasuk Indonesia dan Tolikara. Kelaparan meraya lela di kalangan mahasiswa dan masyarakat.
Dalam situasi Politik penguasa Mendatai seluruh masyarakat bahkan orang Gila di jalananPun di data demi kepentingan Politik.
Bansos hanya mendatai orang orang yang ekonomi di atas rata-rata, rakyat kecil sedang telang Ludah sambil Menunggu dari Manah pertolongannya akan datang dalam situasi pademi ini yang ada hanya air😭 dan duka bagi Rakyat Kecil.

“Wahai Pimpinan Eksekusi, Legislatif dan ANS Tolikara
Kalau anda tidak mau bantu kami para GENERASI saya Mohon.
Tolong_Tolong_ Tolong.dan Tolong lihat Mama punya Jualan di pasar itu biar mama_mama kami yang kirim uang makan dalam situasi pademi corona virus ini.

(1) Satu Lapar semua lapar (1)satu kenjang semua kenyang. itulah moto Hidup kami Anak Rantau

Mengelu kepada orang tua itu wajar saja. Ujar Sony Liwiya selaku Ketua Korlap Aksi Mahasiswa Tolikara Se-indonesia

Cacatan.
Tulisan dipublikasikan atas permitaan dan atas perijinan, dari sumber penulisnya Sony Liwiya Mahasiswa asal Tolikara Kota studi manado.

penulis . Sonny Liwiya
Sumber . WAGrup
Repost . Admin Blog Voice For

Mahasiswa/I Tolikara Se-indonesia Berikan Kartu Kuning Kapada Pemda Atas Ketidakseriusan Dalam Penanganan Covid-19Mahasiswa/I Tolikara Se-indonesia Berikan Kartu Kuning Kapada Pemda Atas Ketidakseriusan Dalam Penanganan Covid-19

Gambar: Dokumen Pribadi Pengurus Perkumpulan Mahasiswa Tolikara (PMT) Provinsi Gorontalo, saat menyampaikan tuntutan Mahasiswa Tolikara Se-indonesia mengenai bantuan covid 19 oleh Pemda Tolikara.

SERUAN AKSI UMUM. KARTU KUNING PEMDA KAB.TOLIKARA

MAHASISWA TOLIKARA SELURUH INDONESIA MENUNTUT KEPADA PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN TOLIKARA DALAM PENANGANAN CORONA VIRUS (COVID 19).

Pemerintah kabupaten Tolikara telah gagal meghadapi permasalahan sedang menghalami Penjebaran wabah pademi virus Corona covid-19

Kami mahasiswa asal kabupaten Tolikara se-Indonesia butuh perhatian kami adalah Aset Generasi penerus Kabupaten Tolikara/pada umumnya Papua. Jika pemerintah tdak menaghapi serius maka Kami seluruh mahasiswa asal kabupaten Tolikara se- Indonesia bersatu terus bersuara.

Gambar: Dokumen Pribadi Pengurus IKB-PMPT KORWIL Badung Jawa Barat, saat menyampaikan tuntutan Mahasiswa Tolikara Se-indonesia mengenai bantuan covid 19 oleh Pemda Tolikara.

Dengan adanya intruksi Presiden Republik Indonesia Ir. Joko Widodo, (JOKOWI) Melalui kementrian kesehatan memberitahukan bahwa seluruh Warga Negara Indonesia, jaga kesehatan dan kenyamanan dalam hal ini karantina diri di rumah.

Berdasarkan Udang-Udang Dasar Nomor 6 Tahun 2018 Tentang Karantina Kesehatan. Kepada Pemerintah Kabupaten Kota diseluruh Indonesia. Inpres diterbitkan karena semakin meluasnya penyebarang virus Corona [Covid-19]. Mempercepat pelaksanaan pengadaan barang dan jasa untuk mendukung percepatan penanggulangan Covid 19.dengan UU No 24 Tahun 2007 tentang penanggulangan bencana, peraturan pemerintah dan No 21 Tahun 2008 tentang penanggulangan bencana.

Dengan berdasarkan dasar hukum diata maka, kami mahasiswa asal Kabupaten Tolikara se-indonesia menuntut kepada pemerintah daerah atas keterlambatan penanganan corona virus (covid- 19.) Sehingga dengan tegas kami menyampaikan beberapa tuntutan antara lain.

Gambar: Dokumen Pribadi, pengurus IKB-PMPT Korwil Makeba, Saat menyampaikan tuntutan Mahasiswa Tolikara Se-indonesia mengenai bantuan covid 19 oleh Pemda Tolikara.

1. Kurangnya perhatian yang seharusnya dari pemerintah namun, pemerintah seakan lepas tanggungjawab dan tidak serius melihat nasib mahasiswa tolikara yang akan menjadi aset tolikara kedepan.

2. Jika tidak diindah kansolusi. Kami menuntut kepada Bupati segera mencobot jabatan kepala dinas P&P, dan (EKBAN) dengan alasan tidak mampu bekerja untuk mengurus/ mengontrol pendidikan ditolikara dari tingkat Sekolah dasar sampai dengan tingkat perguruan tinggi.

3. Kami menuntut kepada pemerintah tolikara dapat segera menyediakan computer/laptop dan wifi disetiap kota study. Dengan alasan semua aktifitas perkuliahan online.

4. Kami mahasiswa/I tolikara seluruh Indonesia menuntut kepada pemerintah daerah untuk segera  salurkan hak-hak mahasiswa yang didukung dalam undang-undang Otsus seperti;
a. Pemodokan/kontrakan
b.Hak study akhir Mahsiswa dan study langkah.

5. Pemerintah Tolikara segera ditiadakan dan bubarkan Dapur Umum yang dibuka oleh pihak TNI/POLRI di ibukota karubaga.

6. Pemerintah Tolikara segera membuka diri dalam penaganan Covid-19 seperti Kabupaten tetangga di wilayah pengunungan

7.Kami Mahasiswa/I seluruh Indonesia, meminta kepada Bapak Bupati segera kedaerah guna melihat keadaan Orangtua kami.

8. Kami mahasiswa/I Tolikara meminta kepada Gubernur Papua dengan tegas menegur Bupati Tolikara karena tidak menjalankan tugas untuk melindungi Masyarakat dan Mahasiswa Tolikara yang sebagai tanggungjawabnya.

Dengan dasar hukum serta beberapa tuntutan diatas maka, Kami seluruh mahasiswa/i Asal kabupaten Tolikara se-indonesia sekali lagi menuntut kepada bapak bupati Tolikara Usman G Wanimbo, SE, M.Si untuk segera anggarkan Dana guna mencukupi kebutuhan masyarakat maupun kami mahasiswa/i di seluruh nusantara. ujar Korlap Umum Mahasiswa Tolikara Se-indonesia. Sonny Liwiya

Penanggung jawab Umum aksi Serentak Mahasiswa Tolikara Se-indonesia

Endiron Weya_________sonny Liwiya

Gambar Sony Liwiya selaku Ketua Korlap Aksi Umum Mahasiswa Tolikara Se-indonesia. Dari Dokumen Pribadi pengurus Perkumpulan Mahasiswa Tolikara (PMT) Provinsi Gorontalo, saat menyampaikan Pernyataan sikap, tuntutan Mahasiswa Tolikara Se-indonesia.

Salam Mahasiswa Tolikara Se-indonesia.
“Nawi Arigi”

Ketika Covid 19 Tiba Papua. Oleh Pemuda Papua

Foto. Dokumen Pribadi Maiton Gurik, dari dinding facebook Maiton Kiwo

KETIKA COVID-19 TIBA DI PAPUA

SEBELUM Covid-19 menyebar ke mana-mana, termasuk tiba di Papua. Mobil ambulans tiap hari ada saja bunyi dijalan raya. Ketika Covid-19 tiba di Papua, mobil ambulans bunyi berkurang dan jarang mendengar suaranya. Situasi ini, terjadi di Ibu Kota Provinsi Papua dan Kabupaten Jayapura (Sentani).

Apa yang bisa kita simpulkan dari situasi ini? Apakah, kerja-kerja para petugas di RS tidak becus? Ataukah RS di Papua yang minim fasilitas kesehatan? Ataukah itu memang harus terjadi? Ataukah keberadaan Indonesia di Papua sebagai pembawah bencana? Ataukah ini kerja-kerja manusia stengah setan yang tidak suka dengan orang asli Papua? JAWABNYA; ‘BISA IA, BISA JUGA TIDAK’.

BISA IA, karena sejak orang Papua hidup bersama Indonesia mempunyai satu memori kolektif yakni; ‘Indonesia sebagai negara pembunuh dan penjajah bagi orang Asli Papua’. Memori kolektif itu, sudah ada sejak Indonesia berintegrasi ke Irian Barat (sekarang: Papua Barat). Memori kolektif itu, juga terus tumbuh dan subur di benak orang asli Papua karena kekerasan, kekejaman dan ketidakadilan yang dilakukan Indonesia itu terlalu; BRUTAL.

BISA JUGA TIDAK, karena Indonesia itu negara pembunuh bertangan dingin. Indonesia itu negara licik seperti ular beludak tulus seperti merpati. Indonesia itu negara munafik dan pembohong besar. Indonesia itu negara tukang janji-janji palsu. Indonesia itu penguasanya mulut lancang dan mulut busuk. Indonesia itu negara yang tidak berperikemanusiaan. Indonesia itu negara yang tidak beradab. Indonesia itu negara yang tidak adil. Indonesia itu negara demokrasi yang tidak demokratis. Indonesia itu negara mayoritas – minoritas. Bukan negara kesatuan.

Penulis. Maiton Gurik
Kampung Puay, 28 April 2020
Waktu 17:24 Wit