Kisah Misionaris Pdt.Trevor C.Johnson: Pelayanan Penginjilan & kesehatan dari pendalaman Korowai Utara

Pendeta Trevor Christian Johnson yang sedang melayani di wilayah Korowai Utara

Oleh. Pendeta Trover C. Johnson Kepada Dr. Aloysius Giay dan Dr. Silwanus Sumule

Saya Pendeta Trevor Johnson dari kampung Danowage, wilayah utara Korowai. Saya ingin berterimakasih dari lubuk hati yang terdalam untuk semua bantuan dan dukungan anda. Papua bisa maju dan bersama kita bisa membantu kemajuan Papua!

Dengan surat ini saya ingin mengucapkan terima kasih untuk bantuan anda bagi saya.
Saya telah melayani di wilayah Korowai sejak 2007. Saya telah menghabiskan sekitar 5 milyar dari dana pribadi saya dan juga dari gereja-gereja di Amerika Serikat dan Indonesia untuk menyediakan pelayanan kesehatan dan pendidikan bagi masyarakat Korowai.

Saya sangat berterimakasih untuk bantuan yang semakin meningkat dari pemerintah yang saya alami dua-tiga tahun belakangan ini; saya juga berterima kasih khususnya untuk bantuan anda dan bantuan dari Dr Yusus Wona juga.
Saya percaya pemerintah dan gereja-gereja di Papua bisa bekerjasama dengan baik sampai ke daerah yang terpencil sehingga masyarakat pedalaman Papua tidak menderita.

Sepanjang sejarah Papua, sekolah dan klinik cukup banyak dimulai oleh misionaris dan gereja-gereja untuk membantu masyarakat pedalaman. Dimanapun pemerintah masuk, disana gereja dan misionaris sudah merintis jalan. Misionaris membuka sekolah dan membantu yang sakit. Saya tidak melakukan hal yang baru, saya hanya meneruskan satu tradisi yang baik. Kami bersyukur atas bantuan dari pemerintah; tapi ini bukan berarti gereja tidak lagi memiliki ruang dalam pelayanan.

Masih terlalu banyak tempat yang perlu dibantu dan kita memerlukan semua bantuan yang bisa kita dapat, baik dari gereja maupun dari pemerintah. Namun di tahun 2018, saya menerima kritik karena melakukan hal yang sama yang selalu dilakukan misionaris.

Saya berusaha melakukan kebaikan demi masyarakat pedalaman, tapi ada beberapa orang yang tersinggung dengan aktifitas saya. Beberapa orang ingin saya dideportasi atau membebankan denda pada saya. Mungkin mereka mendatangi anda juga untuk mengkritik saya atau menanyakan pertanyaan-pertanyaan kepada anda tentang saya.
Ada 3 kemungkinan kenapa ada orang-orang yang mengkritik pelayanan kesehatan yang saya lakukan:

(1). Pertama, adanya kemungkinan bahwa saya akan memberikan perawatan kesehatan dengan buruk atau saya tidak berkompeten. Namun, saya pikir bukan ini alasannya. Saya dan istri saya adalah perawat yang sudah terdaftar secara sah di Amerika Serikat dan kami memiliki pengalaman sebagai perawat selama bertahun-tahun. Kami cukup yakin bahwa kami dapat lulus ujian keperawatan apapun di Indonesia (kecuali jika istilah-istilah medis ditulis dalam Bahasa Indonesia dan bukan Bahasa Inggris). Terutama istri saya, dia seorang perawat yang sangat kompeten. Dan saya tidak bermaksud untuk merendahkan tingkat pelayanan kesehatan di Indonesia, tapi secara keseluruhan, perawat-perawat di Amerika terlatih dengan cukup baik dibandingkan perawat-perawat di Indonesia. Saya cukup yakin kami mengerjakan pekerjaan yang berkualitas di kawasan Korowai Utara.

(2) Yang kedua, ada kemungkinan bahwa orang-orang mengkritik pelayanan kesehatan yang saya lakukan di wilayah Korowai karena setiap foto dari orang Korowai yang sakit menunjukkan ketidakhadiran pemerintah di daerah-daerah tersebut. Beberapa orang merasa malu melihat foto orang-orang sakit di Korowai. Banyak yang bertanya “Kenapa tidak dibantu oleh Pemerintah?”sehingga beberapa orang merasa dipermalukan dengan laporan saya mengenai betapa buruknya daerah Korowai. Tapi jika wilayah tersebut benar-benar dalam krisis, maka hal itu harus dilaporkan, jangan ditutup-tutupi. Kalau ditutup-tutupin, krisis tersebut akan terkuak seperti yang terjadi di wilayah Asmat. Lebih baik kita menyingkapkan kenyataan dan betapa berat pergumulan yang dihadapi untuk mengubah keadaan. Bersama kita dapat menjangkau seluruh kawasan Korowai.

(3) Ada kemungkinan ketiga mengapa ada orang yang mengkritik pelayanan kesehatan saya, karena mereka mau membuat masalah untuk saya. Dapat diamati bahwa saya tidak mendapatkan kritik apa-apa sampai saya mulai membuat laporan mengenai adanya penambangan emas secara illegal di kawasan Korowai. Menurut saya, saya telah membuat pihak-pihak yang terlibat dalam penambangan emas tersebut marah.

Penambangan emas ilegal itu bukan hanya sebuah pelanggaran HAM, tapi juga menyangkut masalah kesehatan dimana terdapat bukti yang sangat kuat yang menunjukkan bahwa para pencari emas menggunakan bahan kimia yaitu zat Merkuri dan membuangnya ke sungai; sementara kita tahu bahwa masyarakat Korowai bergantung pada sungai sebagai tempat mencari makanan dan untuk mandi.

Oleh karena itu, kita harus menghentikan penambangan emas ilegal karena itu bukan hanya pelanggaran terhadap HAM tapi juga pasti mengakibatkan permasalahan kesehatan. Zat kimia Merkuri dapat membunuh udang dan ikan dan juga dapat menyakiti orang-orang. (Untuk membantu kesehatan bagi orang-orang Korowai, kita harus menghentikan penambangan emas ilegal.)

Tapi saya mendengar minggu lalu dari seorang pendeta yang adalah teman saya yang bekerja di kantor pemerintahan bahwa Intel sedang mencari-cari alasan bagaimana supaya bisa mendeportasi saya. Saya rasa mereka ingin membungkam saya mengenai perihal penambangan emas ilegal. Teman saya itu mengatakan bahwa ia secara tidak sengaja mendengar seseorang di kantor itu berkata, “mungkin kita bisa pakai pesawat langsung ke Danowage dan tangkap mereka dan langsung deportasi mereka.”

Bukanlah hal rahasia bahwa penambangan emas ilegal dan penebangan hutan ilegal masih ada di Papua. Bukan satu rahasia juga bahwa oknum dalam kepolisian, oknum dalam TNI dan politisi bertindak sebagai “tangan yang tersembunyi” dibalik kerusakan ini. Tapi sebagai seorang Kristen saya tidak bisa diam ketika diperhadapkan dengan ketidakadilan. Saya tidak punya pilihan lain selain berbicara lantang dan saya tidak akan mau diintimidasi.

Jika kita menerangi korupsi dan kerusakan di Indonesia maka mereka akan berserakkan dan bersembunyi atau menghentikan aktifitas mereka, sama seperti ketika kita menerangi kecoak atau tikus. Bersama-sama kita bisa menjadikan Papua bersih dari korupsi dan sehat bagi semua penghuninya, termasuk yang paling miskin dan yang paling terpencil. Saya bukanlah musuh pemerintah tapi saya sebagai mitra pemerintah karena kita memiliki tujuan yang sama, yaitu untuk membantu warganegara Indonesia untuk hidup lebih sehat.

Saya bukan ingin mengkritik pemerintah, dan saya tidak pernah mengkritik pemerintah. Presiden kita yang baik sedang memerangi korupsi dengan berani dan oleh karena itu saya yakin dia akan mendukung semua usaha memerangi korupsi di Papua dan untuk memerangi penambangan emas ilegal.
Saya hanya mendorong beberapa isu yang berkenaan dengan kesehatan supaya proses yang sedang berjalan akan semakin baik.

Saya berdoa dan mendukung semua pejabat pemerintahan di Papua dan seluruh Indonesia. Saya berbicara dengan lantang mengenai beberapa hal bukan karena saya membenci Indonesia dan pemerintahannya dan masyarakatnya; sebaliknya, saya berbicara dengan lantang karena saya mengasihi Indonesia, pemerintah dan masyarakatnya. Saya ingin melihat Indonesia makin maju.
Jika anda bisa dengan segera memberikan Surat Ijin bagi saya untuk melaksanakan pelayanan kesehatan, ini dapat mencegah kritik-kritik menjatuhkan ditujukan kepada saya oleh orang-orang yang menginginkan saya dideportasi.

Saat ini ada beberapa pihak yang mengatakan bahwa saya tidak punya ijin resmi untuk menangani yang sakit atau memberikan obat kepada yang sakit di wilayah Korowai. Dan ya, saya akui ini benar. Saya tidak pernah berusaha menyembunyikan fakta ini. Saya adalah seorang rohaniawan pemegang Kitas. Tapi bagaimana mungkin saya tolak orang sakit dan tidak beri mereka pertolongan? Kadang tidak ada pihak lain yang ada untuk bantu mereka. Saya tidak bisa membiarkan mereka mati.

Saya percaya kritik-kritik datang dari mereka yang sama sekali tidak memperdulikan mereka yang sakit di wilayah saya. Yang mereka inginkan hanyalah supaya saya tidak lagi berada di Danowage sehingga saya tidak bisa lagi melaporkan kegiatan ilegal mereka yaitu penambangan emas ilegal. Mereka mau saya pergi sehingga mereka dapat memperkaya diri dari kekayaan Tanah Korowai, walaupun suku Korowai harus menderita dan mati karena kemiskinan.

Sementara saya sedang berjuang mencari dana untuk menggunakan helikopter untuk melayani orang sakit, saya dengar ada setidaknya 1 helikopter yang siaga di bandara Dekai untuk mengangkut para penambang emas. Ini membuat saya marah bahkan saat saya hanya menulis tentang ini.
Aliktab dalam Amsal 14:31 berfirman bahwa, “Siapa menindas orang yang lemah, menghina Penciptanya, tetapi siapa menaruh belas kasihan kepada orang miskin, memuliakan Dia.”
Kemudian Amsal 29:7 melanjutkan, “Orang benar mengetahui hak orang lemah, tetapi orang fasik tidak mengertinya.”
Dan Firman Tuhan mendorong kita dalam Amsal 31:8, “Bukalah mulutmu untuk orang yang bisu, untuk hak semua orang yang merana. Belalah mereka yang tak dapat membela dirinya sendiri. Lindungilah hak semua orang yang tak berdaya.”
Saya mencoba sebaik mungkin untuk mengikuti Firman Allah.

Terima kasih karena anda membantu saya dalam pergumulan ini. Bersama kita bisa memberkati masyarakat di Korowai.
Terima Kasih, God bless you for your help!

Penulis: Pendeta Trevor Johnson
Repost. Admin

Benny Kogoya: Prihatin Dengan Pelayanan Bupati Kabupaten Tolikara dan OPD Kabupaten Tolikara

Benny Kogoya
Tokoh Pemuda Kabupaten Tolikara Sangat Prihatin Dengan Pelayanan Pemerintah Kabupaten Tolikara

VOICE FOR MANY PEOPLE-Mbay 02/10/2020. Dilansir dari Media lokal TIFACENDERAWASIH.COM

Tokoh Pemuda Kabupaten Tolikara Benny Kogoya sangat prihatin dengan pelayanan pemerintahan Bupati Tolikara dan Organisasi Perangkat Daerah selama bertahun tahun menghabiskan waktu di luar Tolikara dan rakyat di terlantarkan dalam pelayanan dan pembangunan dalam beberapa bidang juga terjadi stag dalam situasi normal saja selalu stag apalagi di tengah pandemi covid19 menjadi alasan utama.

Pada hari senin hari kerja saya ada keperluan ke kantor bupati tidak melihat ASN berseragam bekerja cuma ketemu sekda seorang diri dan OPD lain di luar daerah kebanyakan dengan bupati menyusun rencana kerja (renja) 2020 di Hotel Grand Abe berbulan-bulan malah sampai mau setahun padahal dari pada kerja di hotel bisa kerja di tolikara kantor yang di bangun bagus tidak di gunakan malah terbengkelai rumput naik.

Dari pada mengunakan hotel membangun gendung yang memadai di jayapura sebagai aset daerah buat rapat-rapat kerja OPD di kantor perwakilan Tolikara yang ada di sentani. OPD mereka bisa bekerja di daerah dan betah hanya karena alasan bupati di luar daerah maka kordinasi kerja OPD maupun rakyat kejar ke jayapura atau ke jakarta.

Dan dari sisi lain BK melihat alasan OPD tidak betah di tempat kerja karena lampu listrik mati tahun ke tahun, Tidak ada air bersih, jaringan internet, perumahan dinas pun belum ada maka kerja di hotel itu mejadi alasan yang lasim di gunakan.
Laporan Hasil pemeriksaan BPK RI memberikan penilaian dalam pengunaan APBD pemerintah Tolikara Wajar Dengan Pengecualian semestinya turung lapangan dan di singkrongkan jangan memberikan penilainan di atas kertas rakyat jadi korban pelayan dan pembangunan karena Tolikara ada indikasi korupsi dana APBD dan beberapa masih dalam Lembaga kemasyarakat, maka kinerja BPK RI perwakilan Papua ini menjadi pertanyaan atau ada nilai transaksi jual beli untuk mendapatkan penilaian dan harap BPK bisa bekerja jujur dalam Laporan Hasil pemeriksaan bukan hanya di Kabupaten Tolikara tapi Papua pada Umumnya harap BK.

Cacatan.
Tulisan dipublikasikan atas perijinan pewarta/penulis

Memenjarakan Mhs/i PRODEM dan anti RASIS Bangsa Papua, Pengadilan Negeri Republik Balikpapan Mengadopsi Hkm pidana warisan Kolonial.Memenjarakan Mhs/i PRODEM dan anti RASIS Bangsa Papua, Pengadilan Negeri Republik Balikpapan Mengadopsi Hkm pidana warisan Kolonial.

Gambar: Kedua Tahanan, Dari Dokumen Pribadi [Voice For Many People]

𝐕𝐨𝐢𝐜𝐞 𝐅𝐨𝐫 𝐌𝐚𝐧𝐲 𝐏𝐞𝐨𝐩𝐥𝐞. Banyak orang di Republik ini tidak sadar, bahwa “Hukum Pidana” yang di gunakan saat ini adalah hukum pidana warisan kolonial.

Dalam sejarah hukum kolonial pada tahun 1926, diberlakukan “Indische Staatsregeling” yang mendasari pembagian golongan Eropa, timur asing dan Pribumi. Belanda pada masa penjajahan, dapat menerapkan ordonansi hukum tergantung pada keingingan Penguasa pada saat itu, terutama kepada penduduk pribumi.

Penerapan ordonansi hukum yang berbeda, dan juga cenderung melemahkan penduduk pribumi, menjadi irisan sejarah hukum pidana, mengapa “jejak genetika rasisme hukum di republik” ini juga terjadi pada Orang Kulit Hitam., Ras Melanesia, di Tanah Papua.

Hal yang begitu memalukan pula, ketika ada tuduhan yang di benarkan secara “latah” oleh segelintir orang, yang tidak memiliki kecukupan pengetahuan tentang sejarah rasisme hukum terhadap warga kulit hitam, ras melanesia, di Tanah Papua, termasuk menuduh ke 7 orang yang ditangkap dan diadili di pengadilan Banjarmasin, Kaltim itu sebagai “Otak Pelaku Kerusuhan”.

Apa benar seperti itu? Mari kita uji rasionalitasnya.

Dalam sistem hukum pidana, yang di adili adalah “perbuatan melawan hukum”. seperti membunuh, menucuri, korupsi, dan lain sebagainya.

Definisi “otak pelaku kerusahan” terhadap 7 orang terpidana PN Balikpapan itu di peroleh dari mana?

Sampai saat ini, tidak ada bukti, bahwa ke 7 orang yang di pidana Pasal Makar itu, menyuruh orang orang untuk membakar fasilitas umum, yang ada dalam rekaman yang bahkan di upload di Media Daring (youtube), adalah orasi mereka menentang segala bentuk rasisme, dan pembunuhan yang terus terjadi di Tanah Papua.

Orasi menentang rasisme di depan ribuan massa, rakyat Papua, bukanlah bukti mereka “menyuruh masyarakat untuk melakukan pengurasakan di sejumlah tempat”.

Bahkan, reaksi demonstrasi/unjuk rasa, yang terjadi di Tanah Papua, pada bulan Agustus – September 2019 yang lalu, sebagai respon/tanggapan/reaksi, kekerasan verbalis rasisme dan pengrusakan Asrama Mahasiswa Papua di Kota Surabaya.

Akar masalah atau penyebab demonstrasi dan ekses kerusuhan sosial di Tanah Papua pada 2019 yang lalu, bukanlah “orasi 7 orang yang ditangkap”.. penyebabnya justru adalah rasisme di Surabaya, sedangkan, masyarakat Papua yang melakukan aksi demonstrasi dan termasuk 7 orang yang di tangkap tersebut adalah “merespons/bereaksi” terhadap pembiaran rasisme terhadap mahasiswa Papua yang saat itu, tidak di tindaklanjuti dengan penegakan hukum, sampai demonstrasi dan kerusuhan yang memaksa Pemerintah dan Penegak hukum memproses Pelaku rasisme.. Atas Dasar kesetaraan di depan hukum, dan prinsip negara hukum, negara tidak memproses pelaku rasisme, jika tidak ada tuntutan/gerakan social action yang dilakukan oleh Masyarakat di Tanah Papua.

Secara terang benderang, bahwa tuduhan terhadap 7 orang yang diadili oleh PN Banjarmasin, sebagai otak pelaku kerusuhan, sejatinya adalah penerapan hukum kolonial yang rasis terhadap Freedom Of Speech di Tanah Papua.. Dan penerapan pasal pasal yang di tuduhkan kepada mereka, dengan ancaman 15-17 Tahun penjara, merupakan pasal pasal yang membunuh “perjuangan anti rasisme terhadap rakyat hitam ras melanesia di Tanah Papua”.. peristiwa ini, akan terus menjadi preseden “rasisme hukum” yang akan terus menangkap dan mengadili setiap “kebebasan menyatakan pendapat di muka umum”.

Mengekspresikan pikiran, bukalah kejahatan makar.. Menolak perbuatan rasis, bukanlah kejahatan..
Menolak kehadiran militer yang membunuh rakyat kulit hitam ras melanesia di Tanah Papua, bukanlah kejahatan.

Penjahat sejati adalah mereka yang menggunakan hukum, sesuai selera dan kepentingan, dan menjual martabat hukum demi melindungi “kejahatan institusional” yang mengorbankan nyawa banyak manusia di Tanah Papua.

Bagi kami, makar itu adalah mereka yang “melecehkan hukum, keadilan, kebebasan berfikir, tidak menghargai nyawa manusia”.

Karena pemilik hukum sejati hanyalah Tuhan.

Penulis. Willem Wandik, S.Sos. Waketum Partai Demokrat
Repost. Voice For Many People
Jakarta 14/06/2020

Mamfaat Daun Ganja dan Daun Gatal

Gambar Kedua Daun, [Dari dokomen Pribadi Penulis Terus Wenda, Mahasiswa Asal Tolikara Papua, Kota Studi Jawa Timur Malang].

KEDUA DAUN GANJA DAN GATAL”

VOICE FOR MANY PEOPLE. Jangan hidup sepeti daun ganja Tetapi Harus hidup seperti daun gatal. Daun ganja mahal harganya tapi manfaatnya Merugikan masa depan generasi bangsa. Sedangkan daun gatal harganya murah meria dan di Papua Gratis namun Manfaat daun gatal sangat besar yang paling Menguntungkan, menyembuhkan berbagai penyakit.

Daun ganja ditanam oleh orang-orang yang butuh kenikmatan dunia demi untuk menghancurkan Generasi Cerdas bagi Tanah, Gereja dan Masyarakat. Serta daun ganja ditanam dengan hati-hati jangan sampai polisi ketahun.

Daun gatal tidak perlu di jaga, tidak perlu di rawat tapi daun gatal dia bertumbuh secara Alami dimana saja ia mau bertumbuh dan tidak kenah disiplin serta bebas dari larangan kepolisian.

Daun ganja lambang ekspresi jiwa mudah serta memasang gaya orang-orang mudah tapi Itu ekspresi serta memasan gaya suatu paksaan dari kasiat aiwanya ganja. 

Daun gatal memang bukan daun Memasang ekspresi dan gaya anak [ABG]. Tapi Ia bisa menyembuhkan beberapa penyakit “kronis dan musiman” Jadilah seperti daunnya Gatal tapi manfaatnya menguntungkan serta daun ganja merugikan diri, gereja dan Masa depan budaya.  Mari lestarikan daun gatal sebab sebelum ada Obat mederen seperti Kimia Farma, inilah obat manjur”.

Cacatan.
Tulisan dipublikasikan atas permitaan dan atas perijinan, dari sumber penulisnya. Terus Wenda Mahasiswa Asal, Kota Studi Jawa Timur Malang.

Jakarta, Cipayung 10-06-2020

Bupati Tolikara Kembali Mendapatkan Kartu Kuning Kedua Oleh Mahasiswa Tolikara Se-indonesia

Gambar Kartu Kuning Bupati. Tolikara Yang pertama & Kedua Serta Korang Berjudul Bupati Tolikara Kembali Mendapatkan Kartu Kuning Ke 2

[VOICE FOR MANY PEOPLE] Mahasiswa Tolikara Se-indonesia Kembali Menuntut Pemda Untuk Dipercepat Proses Pengiriman Bansos C-19

Dari tuntutan awal tanggal (03/05/2020) lalu satu hari kemudian tanggal (05/05/2020) Bapak Kepala Daerah Usman G. Wanimbo, SE.M.Si selaku Ketua Tim Gugus Covid-19 telah di umumkan kepada mahasiswa/i di aula Asrama putra Tolikara jalan Yoka, kota jayapura-papua.
Dapat menyampaikan kepada media dan mahasiswa nya bahwa anggaran khusus untuk bantuan kepada mahasiswa Tolikara se-indonesia sebesar $ 4 Miliar lebih.

Dana tersebut ditangani oleh Asisten ll dengan tim kerjanya untuk mengalokasikan kepada setiap mahasiswa/i seluruh indonesia dengan mekanisme pengiriman atau pembagiannya yang telah disepakati bersama dari pihak pemda dengan mahasiswa namun, dana sudah dianggarkan tinggal eksekusi itu terlihat terlalu molor kerjanya sampai memakan waktu 21 hari. Terhitung dari 05- 27 Mey 2020.

Dengan molornya proses pengiriman/pembagian dengan alasan tidak masuk diakal dan persyaratan yang di minta dari pihak pemda seperti

“KTP, KPM dan Surat Aktif Kuliah [untuk mengirim lewat rekening masing-masing]”

Namun seluruh mahasiswa menilai bantuan dana studi akhir dan dana pemondokan mungkin wajar pihak pemerintah meminta data fisik semacamnya tetapi, mengenai bantuan untuk Covid-19 ini sepertinya terlalu berlebihan. Pemda mereka seolah-olah mata buta atas aktifitas perkuliahan yang sedang diliburkan sementara waktu karena Pandemic wabah virus Covid-19 ini maka, untuk melengkapi persyaratan semacam surat aktif kuliah itu bagaimana bisa mau ambil di campus?

Oleh sebabnya persyaratan simple saja semacam Draft Nama-nama (Database) Mahasiswa/i yang sudah dikirim oleh ketua koordinator masing-masing itu sudah data mutlak. Karena ketua-ketua korwil itu pimpinan dari setiap anggota yang mereka percaya maka pemda harus percaya mereka.

Dan perlu dicatat bahwa untuk menangani persoalan bantuan ini wajib dengan dasar hukumnya jelas sebab di perintah dari kepala Negara untuk setiap daerah dalam hal penanganan Covid-19 harus dianggarkan.

Dengan hal ini setiap kepala daerah sudah ambil tindakan yang efektif untuk menyelamatkan masyarakat dan generasi penerus daerahnya masing-masing maka tim yang sedang proses data tidak perlu ngotot untuk mempersulitkan mahasiswa.

Ingat!
Presiden Soeharto di turunkan dari kepala negara saat itu karena ada aksi mahasiswa

Cacatan.
Tulisan dipublikasikan atas perijinan, sumber penulis Yeromy Bembok, dari dinding Facebook Lebah Toli

Berikut link video tuntutan Mahasiswai Tolikara👇https://youtu.be/Ceg0aG57Ais[UW CHANNEL]

Coretan Sebuah Renungan

[Foto Penulis dari Dokumen Pribadi] Botol Aqua

Saya suka Dengan Coretan saya ini, semoga Kalian juga suka dan memberkati dengan Coretan ini.

Oleh. Usman Weya

Sebuah BOTOL
~Kalau diisi air mineral, harganya 3 tiga ribuan…

~Kalau diisi kopi & teh, harganya ya 5, limah ribuh ribuan
~Kalau diisi jus buah, hargan ya 10, sepuluh ribuan…
~Kalau diisi Madu, harganya ratusan ribu…
~Kalau diisi minyak wangi harganya bisa jutaan!.
~Kalau diisi air comberan, hanya akan dibuang dalam tong sampah karena tidak ada harganya…

Sama-sama dikemas dalam BOTOL tetapi berbeda nilainya, sebab “isi” yang ada di dalamnya berbeda…

Begitu juga dengan kita; semua sama. semua manusia.

Yang membedakannya adalah; KARAKTER yang ada didalam diri kita.

Ilmu dan pemahaman yang benar akan membangun karakter yang benar.

“Sukses tidak diukur dari posisi yang kita capai, tapi dari kesulitan’2 yang berhasil kita atasi ketika berusaha meraih sukses”

Bila kita mengisi hati, dengan penyesalan masa lalu dan kekhawatiran akan masa depan, hampir pasti kita tidak akan memiliki hari ini untuk kita syukuri.

Hujan dan badai akan selalu kita temui dalam perjalanan hidup, namun…

“Hujan besar itu seperti tantangan hidup. Tidak perlu berdoa memohon hujan berhenti, tetapi cukup berdoa agar Payung kita bertambah kuat”

Ingat! Umur itu seperti es batu.
dipakai atau tidak dipakai akan tetap mencair… digunakan atau tidak digunakan umur kita tetap akan berkurang dari “jatah” yang telah ditetapkan.

“Selagi masih tersisa jatah usia kita, lakukanlah KEBAIKAN sebanyak yang kita mampu lakukan.”

  1. Ada tiga hal dalam hidup yang tidak bisa kembali:
    Waktu, Ucapan dan Kesempatan
    Jagalah itu, jangan sampai kau menyesal karenanya…
  2. Ada tiga hal yang dapat menghancurkan hidup seseorang:
    Amarah, Keangkuhan dan Dendam
    Hindarilah ia selalu…
  3. Ada tiga hal yang tidak boleh hilang :
    Harapan, Keikhlasan dan Kejujuran
    Peliharalah ketiganya…
  4. Ada tiga hal yang paling berharga :
    Kasih Sayang, Cinta dan Kebaikan
    Pupuklah itu semua…
  5. Ada tiga hal dalam hidup yang tidak pernah pasti:
    Kekayaan, Kejayaan dan Mimpi
    Jangan terobsesi karenanya…
  6. Ada tiga hal yang dapat membentuk watak seseorang :
    Komitmen, Ketulusan dan Kerja Keras
    Upayakanlah sekuatnya…
  7. Ada tiga hal yang membuat kita sukses :
    Tekad, Kemauan dan Fokus
    Usahakan dengan sungguh-sungguh…
  8. Ada tiga hal yang tidak pernah kita tahu :
    Rejeki, Umur dan Jodoh
    Mintalah pada TUHAN..
    TAPI, ada tiga hal dalam hidup yang PASTI :
    Tua, Sakit dan Kematian

Masa Depan Cerah
Kisah Parah Rasul 1:11

Selamat Memperingati Hari Kenaikan Yesus Kristus ke Sorga.

Mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya untuk menerima Berkat. Sebab Kenaikan Yesus ke Sorga dan janji kedatangan-Nya kembali memberikan kita sebuah pengharapan dan kepastian. AMIN

Bandung 21-05-2020
Waktu 23:19 Wib

Kartu Kuning Buat Bupati Tolikara

Foto Dokumen, “Kartu Kuning Bupati Tolikara” [Aksi Mahasiswa Tolikara Se-indonesia.]

Oleh Dr. Etius Weya

KARTU KUNING BUAT BUPATI TOLIKARA

Beberapa minggu ini, kita semua intelektual Tolikara di kagetkan dengan aksi adik-adik mahasiswa, dengan memberikan Kartu Kuning kepada Bupati Tolikara, terkait bantuan sosial dampak virus Covid-19.

Ungkapan kekecewaan adik-adik mahasiswa seluruh Indonesia ( kecuali Jayapura), dilakukan lewat demonstrasi virtual yang dilakukan, bahkan sampai tembus di TV lokal di Papua (Jaya tv).

Beberapa hari kemudian Pemda Tolikara berespon bahwa dana bansos sudah disediakan 4M untuk mahasiswa dan warga Tolikara namun untuk di salurkan pemda meminta beberapa syarat seperti KTP, KTM, KRS, Buku tabungan. ( ribet sekali yaa birokrasi heeee). status Facebook Etius Weya

Yang kita lihat di beberapa media, pemda Tolikara memberikan bantuan kepada ade-ade mahasiswa di Jayapura, hal ini membuat munculnya beberapa reaksi dari intelektual Tolikara.

Tentu kita semuanya ini terdampak pandemi Virus Covid-19, hemat saya ada baiknya pemda Tolikara mengutamakan adik-adik yang diluar Papua dengan pertimbangan mereka jau dari orang Tua, susah berkebun dll. Ini sebenarnya hanya masalah logika berpikir kita saja, ini sebenarnya masalah mana yang lebih prioritas dari semuanya yang terdampak virus Covid-19.

Etius Weya melihat begini.

Kita semuanya intelektual Tolikara sudah harus siuman, kita sudah di pecah bela oleh siapa? Saya sendiri belum tahu, ikatan-ikatan distrik, suku, keluarga dll banyak yang Bermunculan, akhirnya nasionalisme distrik lebih dominan dari pada nasionalisme Tolikara. Kalau kita biarkan begini, tentu dimasa mendatang kita mau cetak calon-calon pemimpin Papua dan Tolikara yang punya wawasan san nasionalisme Papua dan Tolikara tentu akan jau dari harapan kita bersama.

Sikap PEMDA ( Bupati Tolikara) seperti sekarang semakin memecah bela adik-adik mahasiswa Tolikara di beberapa Kota study, tentu ini sangat memprihatinkan, padahal jika kita sejenak saja melihat kebelakang, dampak dari PILKADA Bupati kemarin adik-adik kita terpecah bela. Semestinya sebagai seorang pemimpin dapat merangkul adik-adik kita.

Sejenak saya diam dan merenung sembari menikmati dinginya kota Ilaga, apakah ini yang di maksud dengan Politik adu domba atau politik pecah bela.

Istilahnya yang kita tahu dari pelajaran ialah devide et impera, ‘pecah, dan kuasai’. Ini sama dengan tradisi orang Inggris; devine and rule, atau orang Arab bilang farriq, tassud!’ yang berarti sama, ‘pecah dan perintahlah.

Benturan yang segaja dimainkan untuk mencari legitimasi ini akan menyebabkan perpecahan dan kehancuran antar mahasiswa/I Tolikara.

Berbicara Politik adu domba pada dulu zaman dulu bisa jadi mungkin karena kurangnya pendidikan, zaman sekarang kayanya tidak mungkin ade-ade mahasiswa sudah pada pintar-pintar. hanya mungkin pendidikan yang didapatkan kurang baik, hehehe.

Kita tidak kompeten akhirnya muda di pengaruhi , Rasional di tutupi oleh emosional seperti halnya nasionalisme Tolikara di tutupi oleh hal-hal yang sifatnya prakmatis. Coretan pendek dari dinding Facebook Etius Weya.

Cacatan.
Tulisan dipublikasikan atas perijinan, dari sumber penulis Dr. Etius Weya

Salam Damai
Penudis. Etinus Weya
Ilaga Rabu 20/5/20

Cinta Itu Revolusi

Foto Natan Weya Aktivis, Mahasiswa Universitas Pattimura Ambon

“CINTA ITU REVOLUSI”

Cinta itu sesuci sagu
Lembutnya sangat papeda
Walau sekujur tubuh berduri

Cinta itu rasa
Tentang kedalaman-kedalaman
Tak tuntas teraba, tuntas terasa

Cinta itu pengertian
Tetapi bukan satu jaga satu
Dalam prasangka-prasangka isi koteka

Cinta itu perhatian
Tetapi hati adalah perawan
Ia bisa retak, luka, darah

Cinta itu kekuatan
Ia tidak takut loreng, lars, peluru
Darah tumpah itu ibadah, mati itu sempurna

Cinta itu perjuangan
Ia tulus selurus batang pinang
Tidak bisa satu bengkok satu

Cinta itu perlawanan
Ia menolak disetubuhi investasi
Apalagi disodomi birokrasi militeristik

Cinta itu kebebasan
Tuhan tak sabdakan penjajahan
Sebab Tuhanlah sang pembebas paling radikal

Cinta itu mulia
Ia membuat Tuhan besar dan Papua makmur
Mengapa ko kaya, tapi kamu Papua miskin?

Cinta itu profetik
Rasa cinta, bilang cinta, kerja cinta,
Bukan bilang cinta, sambil tembak jantung Papua

Cinta itu buta
Tetapi bisa bikin sakit jiwa
Jika keadilan tumbuh-tumbang tumbuh-tumbang

Cinta itu harus dipupuki
Dibungkus agar tumbuh dewasa bebas merdeka
Seperti mimpi setiap anak bangsa Papua

Cinta itu suara cendrawasih
Tentang sa pu tangan hapus air mata Papua
Agar bukan menangis melainkan melawan

Cinta itu seni membuka jalan
Manakala seribu jalan buntu
Masih ada satu jalan terakhir untuk bebas

Cinta itu tidak bungkam
Ia buka mulut, unjuk gigi, julur lidah
Ia boleh kibar bendera dan teriak merdeka

Cinta itu kodrat Papua
Ia putih walau terbungkus kulit hitam
Ia lurus walau bermahkota keriting rambut

Cinta itu bening air Teluk Cendrawasih
Ia tak bisa dicemari tipu daya kentut republik
Manis di bibir petinggi, pahit di empedu Papua

Cinta itu tidak fana
Badan bisa mati, keadilan bisa mati
Tetapi jiwa kebenaran hidup setua Tuhan

Cinta itu tidak mungkin terpenjara
Tubuh dibui, mulut dibungkam
Tetapi kenangan republik jahat, tidak terpenjara

Cinta itu ada di peradilan akhir
Akan terbukti ko pu cinta cuma lem aibon
Manis di pidato, tetapi mabuk sampai kiamat

Cinta itu selalu tolak lupa
Langit merah putih tampar bintang kejora
Maka kamu ingat, darah Papua sudah jadi sungai bagaikan kali mamberamo

Cinta itu revolusi
Ia selalu cetuskan isi jiwa
Menjadi merdeka.

“CINTA DAN KEBEBASAN BUTUH PEMBERONTAKAN”

Cinta bukan harus menyakiti,cinta juga bukan soal baku mengerti dan baku jaga tetapi cinta itu soal perasaan.

Cinta itu harus diperjuangkan,tetapi cinta juga tidak dipaksa. Cinta itu buta tapi dia jahat bisah buat Orang sakit jiwa.

Sama halnya Indonesia bilang cinta for Orang papua,tetapi realitanya Indonesia bukan cinta manusia melainkan cinta Sumber daya alam Papua.

Ko boleh Kasih perhatian tetapi jangan kasih hati,sebab cinta tingalkan luka yang berat.Jangan kaya Indonesia lalu tingalkan darah orang Papua terus mengalir membasai bumi Cenderhawasih. itukah Ko bilang cinta for Papua

Cinta itu seni bagaikan suara burung cenderhawasih yang begitu merdu sambil berkicau,menghiasi bumi cenderhawasih,dan menghibur Rakyat papua yang sedang menangis disana!

Suara burung cenderhawasih yang begitu merdu menadakan bahwa ada harapan baru dan semangat untuk tetap lawan.

Cinta itu,harus diperjuangkan agar tetap bertumbuh dewasa, Sama halnya memperjuangkan Papua Merdeka agar tetap bebas dari penjajah

Mencintai ko butuh strategi agar ko tetap Nyaman.sama halnya memperjuangkan kemerdekaan agar tetap merdeka.

Cinta yang sesungguhnya adalah kebebasan Rakyat,bukan kematian bagi Rakyat.
Ko larang saya demo papua merdeka untuk apa? saya tembak ko, ko larang saya suarakan pelagaram HAM untuk apa? Saya dengan ko.

Ko harus sadar,saya bicara merdeka karna saya ingin kita bebas, dari penjajah kolonial Indonesia.

Cinta bukan kita bergaya Main Uang Otonomi Kuras Papua diatas penderitaan Bangsa Rakyat Papua tetapi cinta mengajarkan kita untuk selamatkan rakyat Papua dari Orang jahat kolonial Indonesia.

Jika kita saling mencintai tidak ada yang menidas dan ditindas apa lagi ditembak mati,jangan kaya Indonesia bilang cinta for Papua lalu membunuh dan menembak Orang Papua.

Hati nurani dan keadilan telah mati,dibumi cederhawasih.Hukum Indonesia sudah tumpul bagi Orang papua itukah kau bilang cinta for Papua. “Indonesia Kau Jahat. “

Cacatan.
Tulisan dipublikasikan atas permitaan dan atas perijinan, dari sumber penulisnya. Natan Weya Ketua Himpunan Mahasiswa Papua Maluku (HMP MALUKU)

Honai Ambon,06 Mei 2020
(Karya Natan Weya). Aktivis Mahasiswa Universitas Pattimura Ambon
Jurusan: Akuntansi
Semester : VIII

Mahasiswa/I Tolikara Se-indonesia Berikan Kartu Kuning Kapada Pemda Atas Ketidakseriusan Dalam Penanganan Covid-19Mahasiswa/I Tolikara Se-indonesia Berikan Kartu Kuning Kapada Pemda Atas Ketidakseriusan Dalam Penanganan Covid-19

Gambar: Dokumen Pribadi Pengurus Perkumpulan Mahasiswa Tolikara (PMT) Provinsi Gorontalo, saat menyampaikan tuntutan Mahasiswa Tolikara Se-indonesia mengenai bantuan covid 19 oleh Pemda Tolikara.

SERUAN AKSI UMUM. KARTU KUNING PEMDA KAB.TOLIKARA

MAHASISWA TOLIKARA SELURUH INDONESIA MENUNTUT KEPADA PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN TOLIKARA DALAM PENANGANAN CORONA VIRUS (COVID 19).

Pemerintah kabupaten Tolikara telah gagal meghadapi permasalahan sedang menghalami Penjebaran wabah pademi virus Corona covid-19

Kami mahasiswa asal kabupaten Tolikara se-Indonesia butuh perhatian kami adalah Aset Generasi penerus Kabupaten Tolikara/pada umumnya Papua. Jika pemerintah tdak menaghapi serius maka Kami seluruh mahasiswa asal kabupaten Tolikara se- Indonesia bersatu terus bersuara.

Gambar: Dokumen Pribadi Pengurus IKB-PMPT KORWIL Badung Jawa Barat, saat menyampaikan tuntutan Mahasiswa Tolikara Se-indonesia mengenai bantuan covid 19 oleh Pemda Tolikara.

Dengan adanya intruksi Presiden Republik Indonesia Ir. Joko Widodo, (JOKOWI) Melalui kementrian kesehatan memberitahukan bahwa seluruh Warga Negara Indonesia, jaga kesehatan dan kenyamanan dalam hal ini karantina diri di rumah.

Berdasarkan Udang-Udang Dasar Nomor 6 Tahun 2018 Tentang Karantina Kesehatan. Kepada Pemerintah Kabupaten Kota diseluruh Indonesia. Inpres diterbitkan karena semakin meluasnya penyebarang virus Corona [Covid-19]. Mempercepat pelaksanaan pengadaan barang dan jasa untuk mendukung percepatan penanggulangan Covid 19.dengan UU No 24 Tahun 2007 tentang penanggulangan bencana, peraturan pemerintah dan No 21 Tahun 2008 tentang penanggulangan bencana.

Dengan berdasarkan dasar hukum diata maka, kami mahasiswa asal Kabupaten Tolikara se-indonesia menuntut kepada pemerintah daerah atas keterlambatan penanganan corona virus (covid- 19.) Sehingga dengan tegas kami menyampaikan beberapa tuntutan antara lain.

Gambar: Dokumen Pribadi, pengurus IKB-PMPT Korwil Makeba, Saat menyampaikan tuntutan Mahasiswa Tolikara Se-indonesia mengenai bantuan covid 19 oleh Pemda Tolikara.

1. Kurangnya perhatian yang seharusnya dari pemerintah namun, pemerintah seakan lepas tanggungjawab dan tidak serius melihat nasib mahasiswa tolikara yang akan menjadi aset tolikara kedepan.

2. Jika tidak diindah kansolusi. Kami menuntut kepada Bupati segera mencobot jabatan kepala dinas P&P, dan (EKBAN) dengan alasan tidak mampu bekerja untuk mengurus/ mengontrol pendidikan ditolikara dari tingkat Sekolah dasar sampai dengan tingkat perguruan tinggi.

3. Kami menuntut kepada pemerintah tolikara dapat segera menyediakan computer/laptop dan wifi disetiap kota study. Dengan alasan semua aktifitas perkuliahan online.

4. Kami mahasiswa/I tolikara seluruh Indonesia menuntut kepada pemerintah daerah untuk segera  salurkan hak-hak mahasiswa yang didukung dalam undang-undang Otsus seperti;
a. Pemodokan/kontrakan
b.Hak study akhir Mahsiswa dan study langkah.

5. Pemerintah Tolikara segera ditiadakan dan bubarkan Dapur Umum yang dibuka oleh pihak TNI/POLRI di ibukota karubaga.

6. Pemerintah Tolikara segera membuka diri dalam penaganan Covid-19 seperti Kabupaten tetangga di wilayah pengunungan

7.Kami Mahasiswa/I seluruh Indonesia, meminta kepada Bapak Bupati segera kedaerah guna melihat keadaan Orangtua kami.

8. Kami mahasiswa/I Tolikara meminta kepada Gubernur Papua dengan tegas menegur Bupati Tolikara karena tidak menjalankan tugas untuk melindungi Masyarakat dan Mahasiswa Tolikara yang sebagai tanggungjawabnya.

Dengan dasar hukum serta beberapa tuntutan diatas maka, Kami seluruh mahasiswa/i Asal kabupaten Tolikara se-indonesia sekali lagi menuntut kepada bapak bupati Tolikara Usman G Wanimbo, SE, M.Si untuk segera anggarkan Dana guna mencukupi kebutuhan masyarakat maupun kami mahasiswa/i di seluruh nusantara. ujar Korlap Umum Mahasiswa Tolikara Se-indonesia. Sonny Liwiya

Penanggung jawab Umum aksi Serentak Mahasiswa Tolikara Se-indonesia

Endiron Weya_________sonny Liwiya

Gambar Sony Liwiya selaku Ketua Korlap Aksi Umum Mahasiswa Tolikara Se-indonesia. Dari Dokumen Pribadi pengurus Perkumpulan Mahasiswa Tolikara (PMT) Provinsi Gorontalo, saat menyampaikan Pernyataan sikap, tuntutan Mahasiswa Tolikara Se-indonesia.

Salam Mahasiswa Tolikara Se-indonesia.
“Nawi Arigi”

Keluhan Mahasiswa Kab. Tolikara Kepada Pemda

Bandung. 03/04/2020. suarahdariKelaparankarantina

MAHASISWA TOLIKARA IKB-PMPT SE-JAWA & BALI  SUDAH 2 BULAN LEBIH MENGALAMI KELAPARAN DI DALAM KARANTINA. DIMANA PERHATIAN PEMERINTAH PEMPROV ATAU PEMKAB TOLIKARA TOLONG BUKA MATA

Pamulihan 03/04/2020
Gambar dokumen pribadi admin blog.
keterangan gambar tersebut, ketika belasan mahasiswa PAPUA asal tolikara keluar asrama berkebun, dalam situasi waba virus corona covid 19. halamat tanjungsari sumendang. jawa barat provinsi jawa barat, kabupaten sumedang, kecamatan Pamulihan.

MAHASISWA/I adalah aset bangsa. kenapa tidak ada perhatian pemerintah kepada Mahsiswa dalam situasi waba virus corona covid 19. khusunya mahasiswa yang dari daerah, ini salah satu contoh Mahasiswa papua asal kabupaten Tolikara yang kuliah di kota studi bandung dan SE-JAWA & BALI sudah tiga bulan kurang  mengggalami kelaparan, tidak ada perhatian dari orang tua bakan pemerintahan daerah dan pemprov.

dalam situasi seperti ini harus nya pemerintah daerah bertindak cepat, karena mahsiswa yang dari daerah adalah agen perubahan masa depan daerah, kab kota tersebut. dan dalam situasi seperti ini rata-rata mahasiswa dari darah pasti berkumpul satu tempat oleh sebab itu pemerintah. tidak harus kasih puluhan juta uang ke setiap mahasiswa tapi belikan beras 50 kg di setiap asrama/kontrakan hal ini langkah lebih cepat, karena mahasiswa sudah terbiasa makan nasi kering tanpa sayur apa lagi dengan situasi sekarang pasti makan apa adanya.

Pamulihan 03/04/2020
Gambar. habis bersihkan rumbut untuk berkebun

ini salah satu contah mahasiswa papua asal kabupaten Tolikara yang kuliah di bandung tengah waba virus corona COVID 19, terpaksa harus keluar asrama bekerja berkebun di tanah orang. ini kami taruan nyawa pak, ma, tolong buka mata liat kami. disini tanah orang, kampung orang. disinipun semua aktifitas tutup, pintu rumah tutup kami rame-rame pergi depan rumah orang minta kerjaan, buat sebungkus nasi. apa kami setiap hari harus begini dalm situasi seperti ini.

Kami pergi minta tanah sama warga setempat untuk berkebun sangat susah, krena dlm sisuati seperti sekarang. kadang kasih kadang tidak, kami disni datang untuk belajar kuliah terima ilmu tapi setiap hari kami berkebun. tolong pemerintah daerah dan pemprov buka mata. Kami mati kelaparan, bukan hanya kami di kota studi bandung tapi SE-JAWA & BALI.

ujung kota kembang (Pamulihan 03/04/2020)

“Kenangan menciptakan pengalaman, pengalaman menciptakan kekuatan”

KAMI IKB-PMPT KORWIL BANDUNG JAWA BARAT. MEWAKILI IKB-PMPT SE-JAWA & BALI MINTA BANTUAN ATAU MINTA PERHATIAN PEMERINTAH PEMPROV PAPUA LEBIH KHUSUNYA LAGI PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN TOLIKARA

Hormat Bapak dong semua. KAMI IKB-PMPT SE-JAWA & BALI adalah masa depan papua dan masa depan Tolikara.

Bandung. 03/04/2020
Waktu . 14:09 WIB

Penulis: UW (alumni IKB-PMPT korwil tangerang)