Menata Pembangunan dari kota ke Kampung: Alnordus Douw Ketua KAP Kab.Dogiyai

Alnordus Douw Ketua KAP Kab.Dogiyai

Badan pengurus daerah kamar Adat Pengusaha Papua (KAP-PAPUA) Kabupaten Dogiyai.

Oleh: Ketua BPD KAP PAPUA Kabupaten Dogiyai Alnordus Douw. HUT KAPP Ke-15.
BEKERJALAH BAGI NEGERIMU

Tua-Tua Adat bersama Pemerhati Ekonomi dan Pendiri KAP-Papua dibawah Naungan Bapak, Jhoni Wamu Haluk, Memikirkan dan merumuskan Ide dan Gagasan untuk membangkitkan Ekonomi Orang Asli Papua ditanah yang penuh dengan susu dan madu ini.

Oleh sebab itu, hasil rumusan ide dan Gagasan tersebut melahirkan dan juga mendirikan Perahu dengan nama Kamar Adat Pengusaha Papua (KAP-PAPUA) pada 30 Juni tahun 2006. Yang didukung Oleh Hak-Hak Manifesto PBB, UU 21 Tahun 2001 tentang Keberpihakan Kepada Orang Asli PAPUA, Rekomendasi MRP Papua Melahirkan Dewan Adat Papua dan Dewan Adat Papua serta pemerhati dan Pendiri Melahirkan Kamar Adat Pengusaha Papua (KAP-PAPUA) dan yang terakhir Pergub 45 Tahun 2019 Tentang Kamar Adat Pengusaha Papua (KAP-PAPUA).

Dengan perjuangan yang panjang ini, tak terasa KAP PAPUA Usia sudah 15 tahun artinya Usia remaja. Lembaga ini payungnya sayap Ekonomi OAP baik jasa Konstruksi Maupun sektor rill.

Kerja-Kerjanya harus tidak mengenal lelah, tidak berhasil maka coba lagi, jatuh maka bangkit lagi, bahkan perlu saling penguatan antara sesama OAP dalam perahu yang ada.

Maka dengan ini, agar bertumbuh dan berkembang sebagai pengusaha sukses perlu saling bahu membahu, saling memotivasi, dan saling membekap agar OAP Menuju Tuan di Negeri sendiri.

Akhir kata, Trimksh parah Pendiri sudah mendirikan satu Lembaga Besar satu satunya milik OAP yang Produk Hukumnya Jelas dan AD /ARTnya Jelas tuk OAP. Dalam Perahu Kami Pengusaha Asli Papua Perlahan-Lahan akan maju bersama Menuju Tuan di Negeri sendiri.

KAP-Papua Hadir sebagai Mitra Kerja Pemerintah Provinsi dan Kabupaten dengan Produk Hukum yang Jelas serta Visi yang jelas Untuk Membangkitkan Ekonomi Kerakyatan dan Jasa Konstruksi Khusus Orang Asli Papua.

Pemimpin Ganti Pemimpin, Generasi Ganti Generasi, Masa dan Waktu Berlalu, perhatikan maupun tak perhatikan Pun KAP PAPUA Akan ada Sama Rakyat di tingkat Provinsi dan juga tiap _ tiap Kabupaten terlebih khusus diakar rumput.

Mari
Menata Pembangunan dari Kampung ke Kota,
Membangun Ekonomi Kerakyatan dari dusun ke Kota.

Oleh :
Ketua BPD KAP PAPUA Kabupaten Dogiyai Alnordus Douw.
HUT KAPP Ke _ 15.
BEKERJALAH BAGI NEGERIMU
Repost: Admin

Bupati Tolikara Kembali Mendapatkan Kartu Kuning Kedua Oleh Mahasiswa Tolikara Se-indonesia

Gambar Kartu Kuning Bupati. Tolikara Yang pertama & Kedua Serta Korang Berjudul Bupati Tolikara Kembali Mendapatkan Kartu Kuning Ke 2

[VOICE FOR MANY PEOPLE] Mahasiswa Tolikara Se-indonesia Kembali Menuntut Pemda Untuk Dipercepat Proses Pengiriman Bansos C-19

Dari tuntutan awal tanggal (03/05/2020) lalu satu hari kemudian tanggal (05/05/2020) Bapak Kepala Daerah Usman G. Wanimbo, SE.M.Si selaku Ketua Tim Gugus Covid-19 telah di umumkan kepada mahasiswa/i di aula Asrama putra Tolikara jalan Yoka, kota jayapura-papua.
Dapat menyampaikan kepada media dan mahasiswa nya bahwa anggaran khusus untuk bantuan kepada mahasiswa Tolikara se-indonesia sebesar $ 4 Miliar lebih.

Dana tersebut ditangani oleh Asisten ll dengan tim kerjanya untuk mengalokasikan kepada setiap mahasiswa/i seluruh indonesia dengan mekanisme pengiriman atau pembagiannya yang telah disepakati bersama dari pihak pemda dengan mahasiswa namun, dana sudah dianggarkan tinggal eksekusi itu terlihat terlalu molor kerjanya sampai memakan waktu 21 hari. Terhitung dari 05- 27 Mey 2020.

Dengan molornya proses pengiriman/pembagian dengan alasan tidak masuk diakal dan persyaratan yang di minta dari pihak pemda seperti

“KTP, KPM dan Surat Aktif Kuliah [untuk mengirim lewat rekening masing-masing]”

Namun seluruh mahasiswa menilai bantuan dana studi akhir dan dana pemondokan mungkin wajar pihak pemerintah meminta data fisik semacamnya tetapi, mengenai bantuan untuk Covid-19 ini sepertinya terlalu berlebihan. Pemda mereka seolah-olah mata buta atas aktifitas perkuliahan yang sedang diliburkan sementara waktu karena Pandemic wabah virus Covid-19 ini maka, untuk melengkapi persyaratan semacam surat aktif kuliah itu bagaimana bisa mau ambil di campus?

Oleh sebabnya persyaratan simple saja semacam Draft Nama-nama (Database) Mahasiswa/i yang sudah dikirim oleh ketua koordinator masing-masing itu sudah data mutlak. Karena ketua-ketua korwil itu pimpinan dari setiap anggota yang mereka percaya maka pemda harus percaya mereka.

Dan perlu dicatat bahwa untuk menangani persoalan bantuan ini wajib dengan dasar hukumnya jelas sebab di perintah dari kepala Negara untuk setiap daerah dalam hal penanganan Covid-19 harus dianggarkan.

Dengan hal ini setiap kepala daerah sudah ambil tindakan yang efektif untuk menyelamatkan masyarakat dan generasi penerus daerahnya masing-masing maka tim yang sedang proses data tidak perlu ngotot untuk mempersulitkan mahasiswa.

Ingat!
Presiden Soeharto di turunkan dari kepala negara saat itu karena ada aksi mahasiswa

Cacatan.
Tulisan dipublikasikan atas perijinan, sumber penulis Yeromy Bembok, dari dinding Facebook Lebah Toli

Berikut link video tuntutan Mahasiswai TolikaraπŸ‘‡https://youtu.be/Ceg0aG57Ais[UW CHANNEL]

Singkat Sejarah Organisasi Mahasiswa Tolikara IKB-PMPT

Gambar : Logo IKB-PMPT Se-Jawa & Bali, Dokumen Pribadi admin blog Voice For Many People

GAMBARAN UMUM BERDIRINYA ORGANISASI IKATAN KELUARGA BESAR PELAJAR & MAHASISWA PENGUNUGGAN TOLIKARA (IKB-PMPT).

1. Pendahuluan
A.Gambaran Umum Sejarah Berdirinya Organisasi.
Tapak-tapak sejarah dibelakang kami, adalah kesaksian yang paling nyata dan tonggak kebenaran, tentang usaha dan pengorbanan yang tiada taranya , telah memberikan kesadaran dan tanggung jawab pada kami untuk kami teruskan sebagai pesan suci.
Kami Pelajar dan Mahasiswa menyadari sepenuhnya dan dengan khidmad menangkap getaran pengukuhan keberadaan organisasi β€œ JAYAWIYAPAN” oleh pendiri Yakni : Ir.Bob Silas Kogoya, S.Th, M.Si. Ir. Jack Panus Jingga M.T. Pdt. Yusak Adi S.Miss, M.Miss. Pdt.Timotius Wakur S.TH, Pdt. Mistien Towolom S.Th. Pdt. Andreas Yikwa S.Th. Ev. Alex T Pagawak S.Th. Pdt. Lipiyus Biniluk S.Th. Mr.Tolias Genongga S.E (Alm ) Wesley Kogoya S.Th ( Alm ). Jimmy Munif Erelak S.T. SISILIA ELOPERE yang mana menggariskan dan mengejawantahkan tekad satu bangsa, satu tanah air, satu rumpun, satu piranti Koteka sebagai lambang kesatuan dan persatuan Pegunungan Tengah Papua.
Pendiri bertekad untuk mengarahkan seluruh upaya dan kemampuan guna menumbuhkan, meningkatkan dan mengembangkan kesadaran pelajar dan mahasiswa Pegunungan Tengah.
Generasi Pegunungan Tengah saat itu berdiri pada Tahun 1985 yaitu dalam bentuk kelompok doa yang disebut β€œ Mula-Mula ” kemudian dalam proses pengkaderan regerasi sebagai sejarah berdirinya organisasi ini pada Tahun 1988 dimana mahasiswa Papua mengadakan Natal di Yogyakarta dibawah naungan ( IPMIRJA ) pada saat-saat itu dimana teman-teman pantai menganggap orang gunug pada umumnya masih bodoh dan terbelakang, maka disitu memunculkan suatu garis hinaan dan berdampak pada preses pembodohan, hal ini terjadi saat-saat dalam wacana khotbah dan berdoa, disinilah orang gunung ditertawai apalagi menjadi bahan diskusi dalam forum-forum ilmiah bahwa orang gunung itu dicapab berbicara bukan dengan mulut atau otak tetapi dengan kaki kepala.
Selanjudnya pada Tahun 1989 generasi Pegunungan Tengah seperti mana nama-nama yang tertera diatas menyatukan hati dan pikiran untuk mengambil keputusan bersama dalam rangkah membentuk suatu wadah didalamnya terdiri dari wilayah Kabupaten Jayawijaya dan Kabupaten Paniai , dan nama organisasi ini disingkat dengan nama β€œ JAYAWIYAPAN ” pertama kalinya berdiri di Yogyakarta. Kemudian pada tahun 1999-2001 terjadi transisi organisasi yaitu pemisahaan wilayah administratif Yakni, Kabupaten Paniai dan Kabupaten Puncak Jawa diikuti oleh Kabupaten Mimika hal ini terjadi di kota studi Bandung. Setelah itu nama organisasi β€œ JAYAWIYAPAN ” berubah Menjadi β€œ IKB PMPJ ” Se-Jawa dan Bali. berikutnya pada tahun 2007 terjadi transisi organisasi yang kedua kalinya di kota studi Denpasar-Bali yakni permintaan untuk pemisahan wilayah administatif baru yakni Kabupaten Tolikara, Kabupaten Yahukimo dan Kabupaten Pegunungan Bintang. maka sejarah ini telah mengantarkan kita pada kedewasan berorganisasi bagi seluruh Pelajar dan Mahasiswa Pegunungan Tengah Papua, dan kami diajak untuk memahami dan menghayatinya dengan sungguh-sungguh bahwa Organisasi β€œ JAYAWIYAPAN” berdiri dengan latar belakang bahasa β€œ HINAAN” . Selanjudnya Jayawijaya adalah organisasi Induk ( orang tua ) dan segalahnya bagi kita semua, sebab lewat Jayawijaya kita dibangun, dibina, disiapkan serta dikaderkan sebagai generasi Pembangun yang siap pake bagi kelangsungan pembangunan Pegunungan Tengah secara Umum dan khususnya bagi kita yang baru mendirikan organisasi ini.
Mencermati history tersebut diatas, yang menjadi tanggung jawab kami sebagai generasi penerus masa kini adalah keharusan diri menyatukan tenaga dan pikiran untuk ikut serta meneruskan ahli waris cita-cita pendiri organisasi dengan lebih segera mencapai masa depan yang lebih baik. Dan pengabdian kita bertekad tetap satu yaitu β€œ satu Honai satu piranti KOTEKA β€œ .
Dan kembali pada keputusan Sidang Pleno IKB-PMPJ pada saat natal bersama di Denpasar-Bali pada tahun 2006 – 2007 yang berisi tentang Pemisahan tiga wilayah administratif Kabupaten baru Yaitu Kabupaten Tolikara, Kabupaten Yahukimo dan Kabupaten Pegunungan Bintang. Disamping itu dinamika Pelajar dan mahasiswa yang berkembang terlihat dari potensi intelektualitas di wilayah se-Jawa dan Bali sangat siap untuk menentukan arah dan tujuan mereka , terkait dengan segala kemajuan dan spesifikasi daerah serta didorong oleh semangat dan motivasi dalam mengembangkan program umum yang akan dibahas.
Selanjutnya Ketiga Kabupaten baru tersebut mengagendakan Jadwal kegiatan masing-masing Kabupaten untuk membentuk Panitia Musyawarah Besar ( MUBES I ). Hal ini terbukti bahwa khususnya IKB-PMPT Se-Jawa dan Bali pada tahun ini ( 2007 ) di wisma kaliurang Yogyakarta mengadakan kegiatan MUBES I sebagai gagasan baru untuk melanjutkan dan merupakan upaya berkelanjutan serta berkesinambungan yang bertahap sebagai ikthiar untuk menjawab tantangan akan peradaban keberadaan IKB-PMPT Se-Jawa dan Bali dan sebagai wadah himpunan Organisasi Kemasyarakatan Pelajar dan Mahasiswa Pegunungan Tolikara serta untuk menjawab tantangan kedepan dalam peran aktif guna memantapkan persatuan dan kesatuan dan mengembangkan kualitas Pelajar Mahasiswa Pegunungan Tolikara khususnya sebagai generasi penerus cita-cita perjuangan pendiri organisasi dan juga generasi barus disebut sebagai sumber insani pembangunan.
Untuk memaksimalkan Fungsi, Tujuan, dan Usaha-Usaha yang termuat dalam AD/ART IKB-PMPT Se-Jawa dan Bali , maka perlu dijabarkan lebih lanjut dalam program umum yang ditetapkan dalam MUBES I IKB-PMPT Se-Jawa dan Bali.
Adapun Program Umum IKB-PMPT Se-Jawa dan Bali masa bakti 2007-2009 disusun sebagai berikut :

Pendahuluan

Maksud dan Tujuan

Landasan Program

Arah dan Strategi

Pokok-Pokok Garapan Strategi

Pokok-Pokok Program Umum

Mekanisme Pelaksanaan Program Umum

Penutup

B. INDENTIVIKASI ORGANISASI.

Nama Organisasi :
Nama organisasi: Ikatan Keluarga Besar Pelajar dan Mahasiswa Pegunungan Tolikara di singkat IKB-PMPT Se-Jawa dan Bali.

Wilayah Organisasi :
IKB-PMPT berkedudukan disalah satu kota studi dalam wilayah, Kabupaten dan Kota di pulau Jawa dan pulau Bali

Status Organisasi :
Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Pegunungan Tolikara ( IKB-PMPT ) adalah organisasi kemasyarakatan yang independent berlandaskan Pancasila dan UUD 1945

Sifat Organisasi :
Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Pegunungan Tolikara ( IKB PMPT ) adalah organisasi sosial kemasyarakatan yang bersifat kesamaan dan tidak terikat pada suatu aliran Politik

Ruang Gerak Organisasi :
IKB-PMPT mengorganisir Pelajar dan Mahasiswa asal Pegunungan Tolikara yang sedang belajar di Pulau Jawa dan Bali sebagai alat control social dalam kelangsungan hidup di daerah perantauan

Masa Bakti Organisasi :
Selama Mahasiswa/I berada di kota studi se-Jawa dan Bali

Masa Bakti BPH :
Periode kepengurusan selama 2 Tahun

II. MAKSUD DAN TUJUAN
A. Maksud
Program umum dirumuskan dengan maksud agar terarahnya pengembangan dan peningkatan yang berkesinambungan dalam rangka mempersiapkan Pelajar dan Mahasiswa Pegunungan Tolikara yang beriman bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, Berkwalitas dan berkemampuan untuk memberikan partisipasi bagi terwujutnya cita-cita pembangunan nasional.
B. Tujuan
Tujuan ditetapkan Program Umum adalah untuk mewujudkan kondisi yang diharapkan dan dilaksanakan secara bertahap melalui kegiatan dua tahunan
III. LANDASAN IDEOLOGI
Landasan Ideologi : – Pancasila
Landasan Konstitusional : -.UNDANG UNDANG DASAR 1945

AD/ART IKB-PMPT SE-JAWA DAN BALI
Landasan Operasional : Semangat Sumpah Pemuda Tahun 1928
Deklarasi Pendirian Organisasi Thn 1985
Permufakatan dalam
keputusan-keputusan tahun 2007

IV. ARAH DAN STRATEGI
A. Arah
Pengembangan dan peningkatan serta kualitas Pelajar dan Mahasiswa Tolikara dilaksanakan dalam rangka:

Memberi nilai tambah pada aspek keimanan dan ketakwaan, mental ideologis, wawasan kebangsaan, kepemimpinan, pengetahuan dan keterampilan, guna pemantapan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara sekaligus menjawab berbagai permasalahan yang berkembang seperti pemantapan demokrasi lokal, pemerataan memperoleh pendidikan dan hasil-hasilnya, peningkatan kesejahteraan anggota, keadilan hukum, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia, yang menjamin keselamatan, kesehatan produktivitas, estetika dan budaya manusia.

Memaksimalkan Peran Intelaktual pelajar dan Mahasiswa Pegunungan Tolikara yang aktiv, kritis, kreatif dan konstruktif untuk menetukan corak dan masa depan dalam rangka mewujudkan cita-cita nasional..

Membangun Kebersamaan , Ide, Gagasan dan langka dalam keberagaman visi dan misi , persepsi dan organisasi demi terlaksananya kegiatan-kegiatan nyata yang memungkinkan dapat melaksanakan tugas-tugas partisipasi pembangunan daerah sesuai dengan panggilannya untuk berperan.

B. Strategi
Berdasarkan arah program umum IKB-PMPT Se-Jawa dan Bali maka sttrategi pelaksanaan program ini disusun sebagai berikut:
a. Strategi Jangka Panjang

Pemantapan iklim pembinaan dan pengembangan intelektualitas pelajar dan mahasiswa pegunungan Tolikara secara bertahap dan berkesinambungan, guna menumbuh komitmen terhadap pengembangan wawasan dan mental yang diwujudkan dalam prilaku , moral, semangat kepeloporan, pembaharuan serta disiplin diri menuju terwujudnya kemandirian

Menumbuhkan dan meningkatkan keberanian moral dalam mengartikulasikan kepetingan pelajar dan mahasiswa serta masyarakat dalam rangka menyukseskan pembangunan nasional dan daerah sebagai pengamalan Pancasila disegala bidang kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Pengembangan rasa kebersamaan, persatuan dan kesatuan dikalangan Pemuda Pelajar dan Mahasiswa Papua pada Umumnya dan khususnya Pelajar dan Mahasiswa Pegunungan Tolikara Se-Jawa dan Bali di berbagai bidang kehidupan, dalam rangka memperjuangkan kepentingan Pelajar dan Mahasiswa Pegunungan Tolikara dengan meminimalkan polarisasi guna mengoptimalkan peran Pelajar dan Mahasiswa Pegunungan Tolikara kedepan.

Peningkatan dan pemantapan profesionalisme Pemuda Pelajar dan Mahasiswa Pegunungan Tolikara dalam hubungan antara kelompok paguyuban dan atau hubungan dengan ormas lainya.

b. Strategi Jangka Pendek
Strategi jangka pendek merupakan rangkaian untuk mewujudkan strategi untuk jangka panjang dengan titik berat pada kondisi bangsa dan daerah pada pembangunan jangka panjang ketiga ( Otonomi Daerah ) yang meliputi upaya-upaya sebagai berikut:

Memaksimalkan IKB-PMPT Se-Jawa dan Bali sebagi wadah yang berhimpun organisasi kemasyarakatan (Sosial ) maupun sebagai mekanisme pengontrolan dalam pembinaan dan pengembangan Intelektualitas Pelajar dan Mahasiswa Pegunungan Tolikara, dalam rangka mengoptimalkan fungsi IKB-PMPT Se-Jawa dan Bali, guna memperoleh kemajuan yang optimal dalam keikutsertaan memantapkan kehidupan masyarakat pelajar dan mahasiswa pegunungan Tolikara.

Memberi dukungan optimal bagi pemantapan Korwil-Korwil yang berhimpun dalam IKB-PMPT, baik dari segi kelembagaan, keanggotaan maupun program, sebagai upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia dan pembangunan ekonomi masyarakat.

Meningkatkan kesadaran, disiplin dan tanggung jawab Pelajar dan Mahasiswa Pegunungan Tolikara sebagai warga Negara sekaligus sebagai subyek yang ikut berperan aktif memantapkan sistem pembangunan nasional dan mekanisme kerjanya sampai pada daerah .

Membangun hubungan kemitraan dengan pemerintah, lembaga-lembaga swasta serta lembaga-lembaga informal lainnya agar pelaksanaan program dapat terealisir secara terencana, terkoordinir, terpadu, dan lancar sesuai dengan yang diinginkan.

V. POKOK-POKOK GARAPAN STRATEGI
Pokok-pokok program strategis merupakan pokok-pokok acuan bagi prioritas kebijakan-kebijakan IKB-PMPT Se-Jawa dan Bali masa bakti 2007-2009
Adapun pokok-pokok garapan strategi sebagai berikut:

Pembinaan dan pengembangan wawasan, pemantapan mental ideologis, pemasyarakatan sikap kritis kontruktif dan peningkatan kualitas kepemimpinan melalui proses kaderisasi

Peningkatan kwalitas komunikasi diantara Pemerintah Daerah, Pemerintah Pusat, organisasi Swadaya Masyarakat ( LSM ) dan antar Pelajar dan Mahasiswa Pegunungan Tolikara serta paguyuban lainnya .

Peningkatan kepekaan secara kritis-konstruktif terhadap setiap masalah yang berkembang dimasyarakat umumnya dan khususnya pelajar dan mahasiswa Pegunungan Tolikara Se-Jawa dan Bali terutama yang berkaitan dengan pemantapan demokrasi, pemerataan pembangunan, dan hasil-hasil kesejahteraan rakyat ( Pelajar dan Mahasiswa Pegunungan Tolikara ) menyangkut pengembangan pendidikan berpola asrama dan pengadaan beasiswa bagi pelajar dan mahasiswa Tolikara yang ada di wilayah se-Jawa dan Bali.

Peningkatan sikap kritis-konstruktif terhadap masalah-masalah yang menyangkut hayat hidup serta kepentingan Pelajar dan Mahasiswa pegunungan Tolikara Se-Jawa dan Bali.

Mengantisipasi dan menanggapi secara kritis-kontruktif setiap perkembangan global yang berkaitan dengan proses pembangunan nasional maupun pembangunan lokal terutama pembangunan di Daerah Papua dan khususnya di Daerah Kabupaten Tolikara

VI. POKOK-POKOK PROGRAM UMUM
Untuk memastikan orientasi perumusan program organisasi di setiap jenjang kepengurusan, maka memperhatikan program kerja ini di setiap tingkatan selama satu periode.
Pokok-pokok program umum terdiri dari:

Pemantapan Kwalitas Organisasi
a. Pengelolaan struktur kelembagaan dan mekanismenya di setiap jenjang.
b. Optimalisasi personalia kepengurusan serta mekanisme kerja organisasi.
c. Pemantapan pola hubungan antar Pemerintah , LSM dan organisasi lainya secara efisien dalam mendukung pelaksanaan program kerja.
d. Penjabaran program kerja dalam seluruh aspek dengan memperhatikan perspektif yang dibentangkan sebagai arah dan rangkaian tindakan yang dirumuskan sebagai strategi.
e. Penjabaran program kerja dilakukan dalam memperkokoh wawasan kebangsaan, kebersamaan, antara sesama dan dengan masyarakat seluruhnya serta memperkuat idealisme, jiwa kepeloporan dan pembaharuan.
f. Penjabaran program kerja harus didukung kemampuan optimal pengurus IKB-PMPT Se-Jawa dan Bali secara individu maupun kelembagaan serta dengan tingkat kemantapan maksimal organisasi kemasyarakatan Pelajar dan Mahasiswa Tolikara dalam segala aspek.

Pemanatapan dan Peningkatan kwalitas Pelajar dan Mahasiswa Pegunungan Tolikara dalam rangka untuk menangkal ancaman hukum
Pemantapan rasa kebangsaan, kebersamaan diwujudkan dengan program yang dapat meningkatkan harkat dam martabat Daerah , pemantapan kebersamaan ini dapat dibangun dengan penciptaan rasa kepemilikan dengan melakukan peran total terhadap berbagai permasalahan yang ada. IKB-PMPT bersama kompenen lainya dapat melakukan berbagai program kajian dan aksi yang diharapkan dapat menghukum bagi yang melanggarnya ( KORUPTOR ) secara social, agar program ini dapat berjalan terarah dan tidak melanggar hukum maka harus melibatkan lembaga bantuan hukum demikian pula dengan Lembaga Swadaya Masyarakat.

Pemantapan dan Peningkatan Partisipasi dalam Pembangunan sebagai upaya mengatasi krisisi kepemimpinan Daerah
Pemantapan dan Peningkatan diwujudkan dengan cara :
a. Partisipasi dalam bentuk konsepsi melalui kajian pemikiran dan dialog tentang berbagi aspek kehidupan masyarakat, bangsa dan Negara secara komprehensif sebagi wujud untuk mengoptimalkan IKB-PMPT Se-Jawa dan Bali sebagai laboratorium kader Pembangun daerah.
b. Menumbuhkan dan meningkatkan potensi intelektualitas pelajar dan mahasiswa pegunungan Tolikara dalam rangka mewujudkan Pelajar dan Mahasiswa sebagai Leader for tomorrow
c. Partisipasi dalam bentuk aksi sebagai wujud keberhimpunan didalam wadah IKB-PMPT Se-Jawa dan Bali dan sebagi sarana pendidikan, pelatihan dibidang kepemimpinan.

Pemantapan dan Peningkatan Ekonomi
IKB-PMPT Se-Jawa dan Bali sebagai Sarana Untuk :
1) Mengembangkan gagasan-gagasan baru yang dilandasai semangat nilai-nilai kejuangan bangsa dan pendiri organisasi ini melalui pengembangan peran IKB-PMPT sebagai sarana untuk meningkatkan ekonomi atau kesejahteran anggota.
2) Menciptakan kondisi yang kondusif dalam rangka memecahkan masalah-masalah ekonomi yang terjadi dalam kehidupan Pelajar dan Mahasiswa Pegunungan Tolikara se-Jawa dan Bali dalam berbagai aspek.
3) Memantapkan kebersamaan yang dinamis , kesetiakawanan dan saling menolong antar sesame Pelajar dan Mahasiswa Pegunungan Tolikara yang berhimpun didalam IKB-PMPT .
4) Mengembangkan komunikasi dalam rangka menjalin pola hubungan antara IKB-PMPT dengan Koorwil, IKB-PMPT dengan Pemerintah Daerah maupun Pemerintah Pusat, IKB-PMPT dengan Lembaga-lembaga donor , serta dengan Lembaga Swadaya lainnya dalam rangka menjalin program-program kemitraan dan bentuk-bentuk kerjasama yang kontruktif.

VII. MEKANISME PELAKSANAAN PROGRAM UMUM
Sesuai dengan arah dan strategi pokok-pokok garapan umum diatas , maka mekanisme pelaksanaan program umum yang terkait erat dengan tindakan pelaksanaan program kerja harus harus memperhatikan :

Program umum ini harus dijabarkan oleh pelaksanaan program dalam seluruh gerak dan tindakan organisasi dengan memperhatikan perspektif yang dibentangkan sebagai arah dan rangkaian yang dirumuskan secara strategis.

Penjabaran program hendaknya dilakukan dalam rangka memperkokoh persatuan dan kesatuan, kebersamaan, solidaritas antara sesama dengan masyarakat seluruhnya, serta mempertebal idealisme, jiwa kepeloporan dan pembaharuan.

Penjabaran program umum ini harus didukung dengan tingkat kemantapan optimal dari segenap pengurus IKB-PMPT termasuk korwil-korwil yang berhimpun dalam segala aspek

Dalam penjabaran program umum menjadi program kerja , hendaknya memperhatikan fungsi IKB-PMPT sebagi wadah pemersatu Pelajar dan Mahasiswa Pegunungan Tolikara.

Dalam melaksanakan program kerja , masing-masing tingkat Korwil bertindak sebagai pengkoordinasian dengan melibatkan segenap anggota secara optimal serta potensi yang ada. Dengan memperhatikan karakterisasi yang sesuai dengan mekanisme kerja yang disepakati bersama dalam institusi yang berwenang untuk menetapkan program kerja.

VIII. PENUTUP
Program umum ini, selanjutnya akan dirumuskan secara lebih opersional dalam Rapat Kerja Wilayah Se-Jawa dan Bali ( RAKER ) yang memang dirujukan untuk membahas program kerja secara mendetail. Akhirnya untuk dapat menjabarkan program umum ini menjadi program kerja bermakna yang strategi bagi IKB-PMPT Se-Jawa dan Bali. Dan tidak terlepas dari peran pengurus IKB-PMPT dan KORWIL secara maksimal.

Evaluasi kerja BPH

Selama beberapa priode yang kita ikuti kinerja kerja BPH Tolikara arah tujuan yang tidak jelas dalam organisasi (IKB – PMPT) Se-JAWA & BALI ini. Usman Weya Kordinator Pendidikan BPH. IKB-PMPT Se-Jawa & Bali Periode 2018-2020

Gereja Kaku Melihat Tragedi Kemanusiaan di Papua

Gereja Kaku Melihat Tragedi KEMANUSIAAN DI TANAH PAPUA

Oleh: MAITON GURIK

Gambar Penulis Dari Dokumen Pribadi Admin

GEREJA hadir di dunia merupakan realita untuk meneruskan tugas perutusan Yesus sebagai Sang Pemimpin revolusioner. Kehadiran Yesus dalam Gereja dijamin oleh janji-Nya agar umat-Nya terus – menerus menyertai Gereja sampai akhir zaman (baca: Matius 28:20). Gereja yang setia pada tugas perutusan adalah Gereja yang memiliki komitmen dan keberanian untuk menegakkan Kerajaan Allah, kerajaan keadilan, damai sejahtera dan keutuhan ciptaan didunia ini. Pun, tugas perutusan itu tidak mudah, terutama di tengah dunia masa kini yang cenderung mengabaikan nilai-nilai yang diwartakan Gereja. Tidak ada pilihan atau kompromi bagi Gereja dalam tugas perutusannya. Jika setia mengikuti Yesus sebagai Sang Pemimpin, gereja dituntut untuk mengikuti-Nya. Doa Yesus ditaman Getsemani adalah spirit utama komitmen Gereja dalam mewujudkan keadilan bagi dunia. Gereja tidak menjalankan kehendak nya sendiri, tetapi kehendak Dia yang mengutus Yesus Kristus sebagai sang Juruselamat. Karena itu, Gereja tidak bisa mencuci tangan terhadap persoalan keadilan yang mendera hidup manusia dan menghalangi perwujudan kerajaan Allah. Gereja yang satu dan Kudus adalah Gereja Yesus Kristus dan bukan Gereja si Pilatus yang memilih mencuci tangan dan tidak peduli pada hidup manusia dan keadilan.

DI tengah kebuntuan hukum, daya rusak tambang (Freeport) dan minimnya upaya serius pemerintah daerah, dibutuhkan sikap kritis yang ekstra dari lembaga – lembaga sosial keagamaan untuk membuat hukum yang menghargai lingkungan dan hak asasi manusia ikut dapat bekerja. Seperti, kasus konflik di Nduga, Intan Jaya, Yahukimo dan didaerah lain – hukum tidak bisa dipercaya begitu saja ke proses formal yang ditangani oleh polisi, jaksa ataupun hakim. Lingkaran itu sudah lebih sering sebagai masalah dari pada solusi. Pun, para pembela HAM harus berhadapan dengan masalah kurangnya sumber daya dasar dan tinggi nya resiko karena kehadiran aparat Militer dalam jumlah besar. Terlebih lagi, banyak organisasi HAM internasional, yang notabene dapat membantu mengatasi masalah kekerasan terhadap para pekerja HAM, masih di larang untuk memasuki ke wilayah – wilayah konflik di Papua. Banyak pembela HAM di Papua yang menjadi sasaran tindak pemaksaan atau dipojokkan, dengan maksud untuk menghalangi pekerjaan mereka. Hal ini dilakukan dengan cara diawasi, dikriminalisasi, dicurigai makar, diancam hingga kekerasan fisik. Tindakan serupa juga dilakukan kepada wartawan, tokoh masyarakat, pemuka agama, mahasiswa dan aktivis dari masyarakat sipil. (baca: Hak Asasi Manusia di Papua 2017, Laporan Koalisi Internasional Untuk Papua (ICP); hal:32).

Karena itu, tekanan masa perlu didorong dengan mengorganisir suara keadilan dari bawah – gereja layaknya hadir disitu bukan lagi tunduk dibawah ketiak Pemerintah. Ada kecenderungan Gereja tidak mau mengambil posisi politis sekaligus menutup mata terhadap konsekuensi politis dari sikap permisif Gereja terhadap tragedi kemanusiaan di Papua. Banyak Gereja bungkam karena telah menerima uang operasional dari pemerintah dan turut setia menikmatinya. Tetapi ketika umatnya dibunuh oleh TNI/POLRI tidak ada yang dukacita yang mendalam – Gereja kaku dan menyimpang terhadap tragedi kemanusiaan. Gereja seharusnya lebih pro-aktif menyikapi kekerasan dan kekejaman yang terjadi di Papua. Gereja layaknya ikut memberikan tekanan agar pelaku pelanggaran HAM di adili, dihukum dan dipenjarakan sesuai dengan hukum yang berlaku. Kotbah yang penuh keprihatinan seharusnya diwadahi lebih lanjut dalam aksi nyata, mengorganisir umat untuk menyikapi berbagai kasus pelanggaran HAM secara kritis. Tidak cukup nasehat apalagi kutipan ayat kitab suci dimimbar. Karena kata – kata bijak saat ini pun diucapkan oleh politisi korup. Banyak diantaranya menggunakan ayat yang sama untuk membenarkan kebrutalannya dan mencuri secara vulgar uang rakyat.

Perbedaan harus ditunjukkan Gereja dengan mengambil sikap nyata. Dukungan Gereja terhadap sikap kritis dan bahkan penolakan terhadap kekerasan dan kekejaman akan memperkuat tradisi dan memperkaya pandangan umat dalam menghadapi pergulatan iman dalam situasi kekinian. Gereja adalah benteng terakhir dari umat manusia. Keperpihakan pada orang teraniaya dan tertindas harus diperlihatkan secara jelas dengan mengambil sikap dan aksi yang memihak masyarakat yang korban. Doktrin Gereja secara tegas menunjukkan bahwa Gereja seharusnya tidak perlu kaku dan ragu menyampaikan suara-suara kenabian dan keadilan. Gereja harus berpihak pada yang lemah, teraniaya, tertindas dan termarjinalkan. Tanpa itu, Gereja akan kehilangan seluruh identitas nya di tanah Papua. Semoga!

Penulis : Alumni S2 Ilmu Politik Kosentrasi Politik Indonesia, Pada Universitas Nasional Jakarta (Pernah Menulis Tesis: ‘GEREJA DAN POLITIK’).
Waena, 04 Februari 2020. Waktu 02:27 Wit

Editor   : Usman Weya
Repost : Admin

Titip Pesan Mahasiswa Tahun Angkatan 80an-90an

Foto, Ir. YB Panus Jingga, MT
Budayakan diskusi, sebab melalui diskusi akan kita ketahui banyak hal yang kita tidak tahu.

Titip Pesan Mahsiswa Tahun Angkatan 80an-90an
Kepada: Pengurus dan Seluruh Anggota Organisasi Mahasiswa Kabupaten Wilayah Pegunungan Tengah Papua Se-Indonesia

Voice For Many People. Salam Sukses dalam lindungan Kasih Tuhan.
Berawal dari pergumulan kita untuk menjadi Calon Pemimpin di Daerah Papua khususnya Pegunungan Tengah bukanlah sebuah jalan aspal yang enak dan sangat bagus untuk dilalui semua jenis kendaraan. Namun ada banyak harga yang harus kita bayar banyak melalui rintangan, tantangan, hambatan, suka duka, sakit, kecewa, canda dan tawa bahkan Nyawapun menjadi taruhan dalam Pencapaiannya Yaitu Sebuah Gelar Sarjana.

Jujur saja bahwa Susah payah dan Mahalnya pendidikan yang pernah lalui dengan penuh jeri payah perjuangan  adalah mahasiswa angkatan tahun 80an, 90an dan tahun 2005 ke bawah. Kenapa saya bilang demikian, mari Kita kupas satu persatu :

1. HP tidak ada waktu itu, yang ada adalah Warung Telkom (WARTEL) sekarang sudah tidak ada.

2. Komputer tidak ada waktu itu, yang ada hanya Mesin TIK orang Papua bilang Mesin Ketik.

3. Tidak Ada Kos-kosan mereka semua di Asrama karena orang Tua mereka semuanya berlatarbelakang Petani, sekalipun ada beberapa anak pejabat namun mereka lebih memilih tinggal bersama di asrama.

4. Mereka hafal betul semua judul Buku dan nama Pengarangnya karena saat itu mereka jarang ke internet minta jawaban ke om Google, tapi mereka lebih memilih ke Perpustakaan dan Toko Buku.

5. Jarang habiskan waktu dengan facebook, WA,  SMS karena  belum pernah ada HP saat itu, mereka hanya menggunakan komunikasi manual yaitu surat menyurat sesama teman, orang tua bahkan cinta yg ada di seberang gunung sekalipun harus di tembus dengan suara diatas sepenggal kertas putih.

5. Mereka Kompak Selalu dalam segala aktivitas belajar, organisasi kampus, organisasi kemahasiswaan dan  organisasi Gereja .

6. Hampir semua Mahasiswa/i di setiap kota study mereka semuanya baku kenal antara satu sama lain.

7. Banyak hal positif dan menarik lainnya.

Catatan ini sedikit pengalaman sewaktu kuliah senior kami dahulu kala yang saat ini adalah pemimpin kami sedang memimpin di daerah Kabupaten Kota dan Provinsi  Papua.
mereka adalah orang-orang yang tidak kenal lelah, tidak cengeng, tidak putus asa namun mereka adalah  pahlawan atau pejuang sejati pendidikan di saat itu, sekalipun banyak tantangan dan hambatan bahkan nyawa mereka menjadi taruhan.

Gaya dan  semangat berorganisasi mereka  adalah berjiwa revolusi, bermental baja,  kreatif,  idealis, konseptor bahkan anda dengan saya bisa menyaksikan saat ini. Padahal waktu mereka kuliah tidak sebanding keenakan masa sekarang ini.

KESERIUSAN / ORIENTASI BELAJAR


Saya mau ingatkan bahwa saat itu tidak ada mahasiswa/i yang namanya putus kuliah kecuali tinggalkan kuliah karena berhalangan berat yaitu mahasiswa bersangkutan telah meninggal dunia. Setiap hari baca buku, selesaikan tugas-tugas sekalipun itu harus pinjam buku di perpustakaan kalau tidak harus beli di toko buku. Dan terakhir mendapatkan nilainya sungguh-sungguh hasil kemampuan murni otak mereka bukan bayar nilai sama dosen atau tenaga pengajar di kampus seperti zaman sekarang ini.

TINGKAT KENAKALAN


Disaat itu sangat terhitung dan semua mahasiswa yang termasuk dalam golongan Tukang MIRAS, jujur saja bisa hitung dengan jari dan mereka ini Peminum Profesional bukan Pemabuk kaya Babi Gila. Mereka sangat profesional saat berpesta miras dimana, kapan dan dengan siapa disitulah hebatnya mereka,ujar Panus Jingga selaku nara sumber diskusi berlangsung.

KEMAMPUAN INTELEKTUAL


Saya tidak akan kupas dalam catatan disini soal kemampuan intelektual mereka, karena anda dan saya bisa rasakan sendiri saat ini atas kepemimpinan yang mereka naungi di bawah campur tangan Tuhan untuk memimpin tanah ini.

PESAN


Hampir semua Bupati Di pegunungan Tengah Papua terkait dengan pembangunan SDM sangat luar biasa dan sedang berkembang sangat signifikan saat ini. Namun ingat bahwa realita di lapangan banyak orang salah memanfaatkan ini untuk bersantai,berfoya dan segalanya. Kita lihat fakta di lapangan bahwa banyak mahasiswa yang terlibat kasus Narkoba, Ganja, Miras bahkan lebih sadisnya lagi kena Virus HIV AIDS dan banyak yang mati saat ini. Kenakala yang tidak terkontrol ini akibat miskin intelektual karena mahasiswa yg pemalas Baca buku dan tidak pernah  kuliah dengan baik, mereka ini adalah aktor perusak masa depan tanah ini dan perlu di ajarkan kepada mereka sebaik mungkin dari semua pihak lebih khusus dari Pengurus Organisasi Mahasiswa Tingkat Kabupaten yang ada seluru tanah air. 

Kepada pengurus Organisasi Mahasiswa/i bahwa tugas utama kalian bukan urus Uang Study Akhir dari Pemerintah Daerah namun kalian harus lihat anggota mahasiswa yang sedang gagal dan jadi perusak di lingkungan kota studi masing-Masing. Kontrol teman – teman  yang Tidak pernah kuliah dengan baik, tingkatkan diskusi dan bangun intelektual yang baik demi masa depan  bangsa ini.

Saran, koreksi, kritik itu penting karena tanpa itu seperti saya makan sayur tanpa garam. Mohon maaf jika ada kata kata saya yang kurang berkenan dalam tulisan ini.

SALAM🀝HORMAT

Penulis  : Usman Weya
Sumber : Diskusi
Nr, sbr : Ir. Jack Panus Jingga
Repost  : Admin
Jakarta  : 08/12/2019
Waktu  : 15:22 WIB

Pendekatan dan Negoisasi Para Tokoh Papua


Foto 10 tokoh papua buatan indonesia

Pendekatan dan Negosiasi Para Tokoh Papua.

Strategi politik pendekatan dan negosiasi dengan para tokoh Papua ini sudah diterapkan sebelum Papua dianeksasi oleh pemerintah Indonesia. Pemerintah Indonesia dan kelompok-kelompok infiltrasi di tanah Papua maupun di Belanda sudah dilakukan strategi politik ini untuk mendekati sejumlah tokoh asli Papua saat itu. Beberapa orang Indonesia yang telah menjadi guru di sekolah Pamong Praja di kampung Harapan telah memanfaatkan posisi mereka untuk mempengaruhi para siswa Papua seperti Frans Kasiepo, Silas Papare, Marthen Indey dan teman-teman mereka.

Di Serui beberapa orang Indonesia asal Manado seperti Sam Ratulangi yang dibuang oleh Belanda di Serui dan beberapa orang Cina termasuk ayahnya dari Yoris Rawayai mempengaruhi Silas Papare dan teman-teman mereka kemudian mendikan partai-partai politik pro Indonesia. Di Belanda Indonesia mendekati beberapa siswa asal Serui dan Biak yang kuliah di sana dan kemudian mereka berbalik dan mendukung Indonesia.

Prinsip yang sama ini juga diterapkan oleh pemerintah Indonesia dalam penentuan tindakan bebas yang hanya dipilih 1.025 orang Papua dengan mengubah sistem satu one man one veto. Maka 1.025 tokoh Papua dan migran itu terlibat dalam pemilihan pepera yang cacat itu.

Pada akhir 1990-an ketika rakyat papua bangkit dan menyatakan kemerdekaan Papua, pemerintah Indonesia telah melakukan strategi yang sama dengan mendekati tokoh-tokoh Papua yang dipimpin oleh Jap Solosa, Frans Wospakrik, Barnabas Suebu, Fredy Numbery, Michael Manufandu dkk mereka. Berdasarkan pendekatan dan negosiasi itu telah dihasilkan Otonomi khusus Papua.

Setelah bangsa papua telah dibentuk ULMWP dan bersatu dalam lembaga politik ini kemudian mendapat dukungan internasional yang signifikan. Gerakan baru ini dilakukan oleh generasi muda dengan daya mobilisasi dan struktur yang terpimpin maka telah menjadi lebih sulit untuk mengatasi ini.

Indonesia telah berusaha untuk membendung kebangkitan ini dengan tiga pendekatan. (1). Pendekatan kekerasan dan operasi militer yang merupakan pendekatan tradisional mereka. (2). Pendekatan diplomasi ekonomi dan suap uang kepada negara-negara pendukung Papua dan lembaga-lembaga internasional dan regional seperti MSG, PIF dan UN. (3). Pendekatan para tokoh Papua dan para petinggi negara mulai dari Presiden Jokowi, para kabinet dan para pejabat militer berwisata pulang balik Papua-Jakarta. Mereka juga kumpulkan orang-orang asli Papua yang sudah menjadi anggota barisan merah putih melakukan berbagai pertemuan atas nama tokoh-tokoh Papua di beberapa kota di Papua. Sebagian lain dibawa ke Jakarta dan ditampilkan di televisi-televisi nasional untuk mewakili pandangan orang asli Papua. Kelompok ini terdiri menjadi empat, yaitu:

1] Pertama, kelompok orang asli Papua yang merupakan anggota barisan merah putih seperti Abisasi Rolo, Yance Udam, Ramses Ohe, dll.

2] Kedua, kelompok orang-orang Cina yang memakai nama-nama fam orang asli Papua, apakah itu diperoleh dari nama klen ibu mereka atau dengan cara lain. Kelompok ini memakai nama-nama klen seperti Rawayai, Waterpauw, Tabo, Banua, dll. Kelompok keturunan Cina ini memakai nama-nama klen orang asli Papua dan tampil di berbagai forum sebagai suara orang asli Papua.

3] Ketiga, kelompok migran yang membentuk barisan merah putih dan ke Jakarta meminta pemekaran Provinsi-Provinsi baru di tanah Papua.

Tetapi, kelihatannya strategi-strategi itu telah gagal maka para pejabat Jakarta sangat rajin berwisata pulang balik Jakarta-Papua dan melakukan pendekatan dengan para tokoh Papua lain. Meskipun demikian saya yakin bahwa strategi politik inipun akan gagal total karena yang berjuang Papua merdeka itu bukan para tokoh itu. Mereka para tokoh ini tidak memiliki kapasitas untuk mewakili orang asli Papua tentang perjuangan kemerdekaan Papua. Perjuangan kemerdekaan Papua dapat diperjuangkan oleh rakyat bangsa Papua, maka yang akan menentukan Papua akan merdeka dan menjadi negara berdaulat, atau akan tetap tinggal bersama Indonesia itu ditentukan oleh semua orang asli Papua.

Konsep orang asli papua secara antropologis sangat jelas bahwa orang asli Papua adalah orang-orang Papua yang secara genealogis ayah dan ibu mereka orang asli Papua dari etnik-etnik di tanah ini, dan orang-orang yang secara genealogis ayah mereka berasal dari etnik-etnik di Papua. Maka kedua kategori ini merupakan orang-orang yang secara genealogis garis keturunan Patrilineal. Mereka ini mempunyai hak mutlak untuk menentukan masa depan, meletakan fondasi rumah Papua di masa depan. Kelompok lain, semisal ibu Papua dan bapak non-Papua juga mempunyai hak politik, tetapi hak politik mereka hanya untuk tinggal dan makan bersama di dalam rumah yang dibangun. Tetapi, mereka tidak mempunyai hak sama sekali untuk meletakan fondasi dan tiang-tiang rumah yang sedang dibangun itu.

Bila dilihat dari konsep itu, kelompok keturunan Cina dan Indonesia yang tampil dengan menggunakan nama-nama klen ibu mereka atau diperoleh nama-nama klen dengan cara lain itu telah mengambil alih hak warisan dari dua kelompok orang asli Papua di atas. Kelompok ini juga memiliki potensi sangat besar yang akan mengulangi peristiwa rekayasa peperamasa lalu karena sebagian dari mereka adalah keturunan dari ayah mereka yang telah mencaplok Papua ke dalam Indonesia.

PolitikJakarta #PapIndo #PapuaMerdeka

Penulis : Nenalluk Jr.
Editor : Usman Weya
Sumber : Facebook NenallukJr.

Pendidikan Tinggi Tak Menjamin Kesuksesan, Tekad dan Kerja Keras adalah Kunci Penting Meniti Karir Masa Depan

Pendidikan Tinggi Tidak Menjamin Kesuksesan, Tekad dan Kerja Keras adalah Kunci Penting Meniti Karir Masa Depan

Semangat dan kerja keras adalah hal penting yang harus dipunya. Tanpa semangat dan kerja keras kita TIDAK akan sanggup mengubah mimpi kita menjadi nyata.

Kebon jeruk. 20 juni 2018
ijazah bukan jaminan kesuksesan via http://www.tescoplc.com

Banyak orang merasa semakin tinggi titel yang disandang nama, maka semakin tinggi pula kesuksesan yang akan diraihnya. Padahal hal itu belum tentu benar adanya. Terkadang gelar yang telah kita dapatkan tidak menentukan arah kesuksesan karir kita ke depan. Sejatinya kerja keras serta semangatlah yang patut dijadikan landasan.


Jika sekarang ini kita masih sering merasa rendah diri dengan jenjang pendidikan terakhir kita, maka jangan pata semangat untuk jenjang berikut.


Kita tidak bisa hanya mengandalkan gelar pendidikan untuk meraih mimpi kita. Di luar hal itu, kita membutuhkan semangat yang selalu menyala dan kerja keras tanpa henti. Ketika kita selalu berhasil menuntun seseorang ke puncak kesuksesan, ubah pola pikirmu sekarang juga.

Hanya semangat juang dan kerja keraslah yang bisa menjadi bumbu utama untuk mencicipi keberhasilan.

BESAR HARAPAN SAYA ARTIKEL PENDEK INI BISA TERINSPIRASI ANDA DALAM MENCARI PEKERJAAN

Penulis. Usman Weya